Video game dan stereotype masyarakat Indonesia pada umumnya

Sudah tidak bisa dipungiri lagi bahwa video game sudah menjadi hiburan yang sulit dipisahkan dari masyarakat, terutama remaja dan anak-anak. Video game yang sudah mulai eksis di dunia semenjak tahun 1980an mulai terkenal sebagai hiburan keluarga, terutama dikalangan anak-anak. Seiring berkembangnya zaman, terjadi juga perubahan fungsi dan mangsa pasar dari video game, hal ini paling banyak terlihat dari banyaknya game yang ditargetkan untuk gamer yang lebih dewasa pada era 90an seperti Duke Nukem, Doom, atau Grand Theft Auto.

Cover game Grand Theft Auto: Vice City

Dengan begitu banyaknya judul game dengan rating Mature yang bermunculan, serta banyaknya remaja-remaja yang tumbuh besar bersama Video Game, tidak mengherankan jika di akhir 90an banyak sekali bisa ditemukan orang dengan usia 15 tahun keatas yang menjadikan game bukan sekedar hobi, bahkan bisa dibilang lifestyle mereka. Sayangnya pandangan masyarakat masih terjebak di masa lalu dimana game saat itu sekedar hiburan yang ditujukan untuk anak-anak. Hal ini menyebabkan banyak hal yang merugikan gamer pada umumnya, seperti:

  • Di kalangan ABG dan remaja (terutama di SMP) banyak yang menganggap kalau main game itu tandanya “masih bocah”, maklum usia SMP bisa dibilang paling labil dan saat-saa dimana para remaja ini mau terlihat eksis sehingga menganggap aktifitas gaming ini sangat tidak keren kalau dipamerkan ke teman-temannya (berdasarkan pengalaman peribadi). Hal ini juga didukung oleh pandangan para orang tua tentang video game yang akan saya bahas lebih dalam nantinya. Untungnya pandangan di kalangan remaja ini mulai terkikis di akhir SMP atau memasuki SMA, bahkan di beberapa tempat, gaming sudah punya komunitas sendiri dan menjadi hal lumrah dan mendapatkan tempat tersendiri di kalangan remaja.
  • Bagi para orang tua yang masih terjebak di masa lalu, banyak yang masih menganggap video game itu hanyalah hiburan untuk anak kecil. Hal ini banyak menyebabkan beberapa orang tua melarang anak remajanya bermain game dan lebih menyuruh mereka nongkrong di luar. Padahal banyak hal positif yang bisa dipelajari remaja dari video game, serta banyak juga pergaulan tidak baik yang bisa dengan mudahnya ditemukan di luar rumah. Saya tidak mengindikasikan bahwa keluar rumah itu buruk dan mengurung diri untuk bermain game itu baik, tapi ada baiknya kalau mindset game untuk anak kecil itu dihilangkan sehingga remaja lebih punya kebebasan untuk memilih cara mereka mencari hiburan namun dengan batasa-batasan tersendiri dari orang tua. Toh segala sesuatu yang terlalu berlebihan pada akhirnya bisa berakibat tidak baik.
  • Masih berhubungan dengan orang tua, banyaknya orang tua yang menganggap video game itu untuk anak kecil menyebabkan mereka terlalu menganggap remeh rating yang ada di video game dan tidak mengawasi game yang dimainkan anak mereka. Sehingga pada akhirnya jika anak-anak memainkan game untuk dewasa dan mempelajari hal tidak baik dari game-game tersebut, maka video game lagi lah yang menjadi korban.
Iklan untuk mempromosikan ESRB

Padahal seandainya orang tua tidak menganggap remeh video game dan lebih memperhatikan rating seperti ESRB, kasus-kasus dimana anak bertindak tidak baik karena pengaruh video game pasti bisa ditekan dengan drastis.

Advertisements

One thought on “Video game dan stereotype masyarakat Indonesia pada umumnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s