Video Games sebagai Medium Naratif

Narrative in Games hasil karya deviant art user sygnin. Detail mengenai gambar ini beserta artikel yang dia tulis bisa dilihat dengan mengklik gambar di atas

Belakangan ini semakin banyak jenis game unik yang bermunculan di pasaran, biasanya game-game unik tersebut berasal dari developer Indie, hal ini sempat saya bahas sedikit di tulisan saya lainnya, efek samping kemajuan teknologi dalam industri video games . Jenis game yang ingin saya bahas sekarang adalah game yang lebih mengedepankan fungsi game sebagai media untuk menyampaikan cerita secara interaktif daripada fungsi utama game yang sering dianggap orang sebagai hiburan digital yang mampu memberikan tantangan kepada penggunanya. Hal ini sering kali jadi perdebatan di kalangan gamer, karena banyak sekali gamer yang menganggap game-game yang akan saya bahas ini bukanlah video game karena kurangnya konsekuensi dari apa yang gamer lakukan terhadap hasil akhir dari game tersebut.
Di bawah ini saya akan membahas 3 buah game yang dirilis satu tahun belakangan ini (walaupun sebenernya salah satu game yang saya bahas belum rilis full-version secara official). Game-game yang saya bahas bisa dibilang adalah game yang cukup sukses menjalankan fungsinya sebagai media story-telling interactive dari review-review yang ada. Game-game tersebut adalah:

– Dear Esther

Screenshot dari Dear Esther

Dear Esther adalah sebuah game dengan sudut pandang First Person (bukan FPS-First Person Shooter lhoo) hasil karya developer indie thechineseroom. Awalnya Dear Esther hanyalah sebuah mod dari game bergenre FPS, Half-Life 2. Mod yang merubah gameplay secara signifikan ini mendapatkan respon yang cukup positif dari beberapa komunitas gaming online. Karena respon yang sangat baik developer game mod inipun men-develop ulang Dear Esther dengan engine yang terpisah dari Half-Life 2 dan merilis ulang game ini pada awal 2012.
Dear Esther mempunyai gameplay yang sangat simple dan kontrol yang hanya sebatas bergerak ke 4 arah dengan tombol WASD, lompat dengan tombol Spacebar, dan mengatur pandangan karakter dengan mouse. Simple-nya kontrol, minimnya interaksi dengan objek di sekitar karakter, dan tidak adanya konsekuensi atas apa yang player lakukan membuat Dear Esther merupakan game yang paling unik di antara game-game lain yang saya bahas. Game ini sendiri memiliki grafik yang luar biasa indah, musik besutan mbak Jessica Curry yang sangat menyentuh, dan cerita yang sangat amat membingungkan.

Masih juga screenshot dari Dear Esther

Semembingungkan apakah cerita Dear Esther? Cukup membingungkan untuk membuat saya yakin bahwa sebagian besar player begitu menyelesaikan game ini akan langsung Googling keyword “Dear Esther explanation” atau “Dear Esther discussion”. Jujur saja, sampai saat ini saya masih belum terlalu mengerti apa yang developer hendak sampaikan dari game ini. Biasanya setelah menamatkan cerita yang rumit, baik itu cerita dari game, film, komik, maupun novel, segala pertanyaan saya bisa menjadi jelas dengan bantuan Google search. Namun setelah saya menamatkan Dear Esther dan berusaha mencari kejelasan dari cerita game ini, yang ada malah saya bertambah bingung dengan banyaknya teori-teori dari gamer lainnya, dan teori-teori tersebut sangat beragam namun sesuai dengan experience saya saat memainkan game ini.

Lagi-lagi screenshot dari Dear Esther

Pada akhirnya saya memutuskan untuk setuju dengan tulisan Alec Meer dari Rock-Paper-Shotgun yang mengatakan bahwa cara paling baik untuk menikmati Dear Esther bukanlah dengan memperdebatkan apa yang hendak thechineseroom sampaikan, tapi dengan menganggap game ini sebagai sebuah wisata digital. Dengan grafik (yang bahkan membuat saya memaksakan untuk memasukan 3 screenshot hanya untuk bagian ini) dan musik yang luar biasa, game ini memang sempurna sekali sebagai media untuk wisata digital. Untuk mendengarkan seberapa indahnya musik game ini bisa langsung coba search di YouTube atau beli langsung dari page bandcamp Jessica Curry, walaupun lebih baik kalau pengalaman pertama anda mendengarkan lagu ini ya pada saat main gamenya. Dear Esther dapat dibeli melalui Steam ataupun toko online lainnya seperti yang disebutkan di official website game ini. Saran terakhir dari saya, jika mau mulai memainkan game ini, mainlah di ruang gelap dan pakai headphone tertutup, and enjoy the journey.

– To the Moon

Screenshot dari To the Moon, walaupun memiliki cerita yang sedih tapi Freebird Games masih dapat menyisipkan jokes yang lucu

To the Moon adalah sebuah game dari Freebird Games yang didevelop menggunakan RPG Maker. Layaknya game berbasiskan RPG Maker lainnya, To the Moon memiliki grafik dengan sudut pandang layaknya RPG klasik. Konsep cerita yang diangkat dalam To the Moon sangatlah menarik (walaupun saya cukup sedih karena saya memiliki konsep cerita yang mirip yang kalau nantinya saya gunakan bisa dianggap sebagai rip-off game ini). Inti cerita dari game ini adalah mengenai 2 orang dokter yang bekerja di sebuah perusahaan yang menyediakan semacam jasa rewrite memory melalui mimpi kepada orang- orang yang sedang sekarat, sehingga mereka dapat mati dengan tenang karena di akhir hayat mereka memory yang ada adalah yang sudah dimodifikasi. Player akan mengendalikan karakter pada masa sekarang dan flashback mimpi pasien.

Screenshot dari To the Moon, lagi-lagi joke lucu yang mungkin hanya dimengerti Lelaki….or not?

Cerita dalam To the Moon bisa dibilang merupakan salah satu cerita paling sedih dari seluruh game yang pernah saya mainkan. Walaupun sedih, game ini banyak menyisipkan joke-joke lucu yang biasanya merupakan reference ke pop culture. Sama halnya dengan game lainnya yang saya bahas disini, konsekuensi player hampir tidak berpengaruh pada cerita sama sekali, jadi player tidak akan pernah merasakan yang namanya Game Over di game ini.
Tidak seperti Dear Esther, cerita di To the Moon bisa dibilang cukup straightforward dan mudah dicerna gamer usia remaja ke atas. Namun jika Dear Esther dan Actual Sunlight bisa diselesaikan hanya dalam kira-kira 1 jam, To the Moon memiliki playtime lebih lama yaitu sekitar 4 jam. To the Moon dapat dibeli melalui Steam atau official website Freebird Games.

– Actual Sunlight

Screenshot dari Actual Sunlight

Actual Sunlight adalah game paling baru di antara 3 game yang saya bahas. Game ini dibuat oleh Will O’Neill. Seperti To the Moon, game ini didevelop menggunakan RPG Maker. Diantara seluruh game yang saya bahas, game ini adalah game dengan text paling banyak. Tema game ini juga cukup sensitif karena membahas tentang kisah hidup seorang individu yang tertutup dan suicidal. Game ini sangat linear dan kurang disarankan untuk orang dengan mental lemah, mengingat dalam game ini kita mengendalikan karakter yang berusaha untuk tidak bunuh diri meskipun banyak hal dalam pikirannya mendorongnya untuk segera lompat dari gedung. Saking sensitifnya isu yang diangkat game ini, sampai-sampai Will O’Neill meninggalkan pesan sendiri kepada player di dalam game ini seperti yang ditampilkan 3 screenshot di bawah.

Pesan dari Will O’Neill yang bisa ditemukan jika player berbicara dengan NPC yang berdiri di depan apartemen

Game ini sendiri sebenarnya belum full-version. Saat ini developernya sendiri sedang mengumpulkan backing-an dana melalui website indiegogo untuk memaksimalkan game ini dengan art, asset, dan musik yang lebih original. Untuk sementara waktu, game ini bisa di download dengan gratis di official website-nya.

Demikian review singkat saya mengenai game-game yang mengedepankan story-telling di atas. Mungkin nantinya saya akan menambah jumlah game yang saya bahas di tulisan ini, tapi sekarang tulisan ini hanya terbatas membahas 3 game saja. Jadi, ditunggu saja ya update-nya kalau ada judul baru masuk jajaran game-game unik dan sukses seperti di atas.

UPDATE: Oke, saat menulis tulisan ini, saya membuka website Freebird Games dan menemukan game lain buatan Freebird Games yang kelihatannya menjanjikan. Setelah men-download dan memainkan game tersebut, saya menjadi sangat tertarik dengan game-game sejenis dan mulai mencari di internet. Ke depannya mungkin tulisan ini akan banyak di update karena saya berniat memasukan sebanyak mungkin game naratif untuk di promosikan. Tapi untuk sekarang, mari bahas dulu seadanya:

–          The Mirror Lied

Screenshot dari The Mirror Lied yang menunjukan Leah, si gadis tanpa wajah, berdiri di ruang makan

The Mirror Lied adalah sebuah game buatan Freebird Games, developer yang juga membuat game To the Moon. Sama halnya dengan To the Moon, The Mirror Lied juga dibuat menggunakan software RPG Maker. Namun untuk ukuran sebuah game dengan RPG Maker, bisa dibilang detail dari setting game ini sangatlah bagus, wajar saja, karena setting game ini hanyalah sebatas sebuah rumah yang dihuni oleh seorang gadis tanpa wajah. Gadis tanpa wajah tersebut adalah Leah, dan player akan mengendalikan dia sepanjang game ini. Detail dan sepinya suasana rumah benar-benar bisa membawa suasana tersendiri bagi gamer, bahkan banyak gamer yang berkomentar bahwa game ini adalah game horror yang tidak berusaha menakuti kita namun berhasil.

Gameplay dari game ini sangatlah simple, yang perlu player lakukan hanyalah meng-explore rumah, berinteraksi dengan objek-objek di rumah, dan mengumpulkan item yang berfungsi untuk melanjutkan progress.  Lain halnya dengan cerita, cerita yang ada di game ini sangatlah membingungkan, bahkan mungkin lebih membingungkan daripada Dear Esther. Sama seperti Dear Esther, begitu selesai memainkan game ini saya hanya bisa berkata “WTF?!”, dan setelah itu saya langsung mencari penjelasan melalui Google. Hasil googling saya mengenai game ini pun lebih tidak jelas daripada Dear Esther, banyak teori-teori yang mengejutkan, bahkan ada yang berpendapat bahwa developer dari game ini tidak bermaksud untuk menyampaikan pesan apa-apa, tapi ingin supaya game ini di interpretasikan dengan bebas, layaknya Rorscharh blot. Saya sendiri walaupun tidak terlalu mengerti ceritanya tetap yakin bahwa ada maksud yang hendak disampaikan dalam game ini, kalau tidak, rasanya agak aneh melihat bagaimana si developer betul-betul memperhatikan detail -seperti gambar lukisan dan peta yang sedikit demi sedikti hilang- kalau memang tidak ada maknanya sama sekali.

Game The Mirror Lied dapat di download dengan gratis di official website, give it a try, game ini tidak akan menyita waktu banyak kok dengan playtime yang hanya sekitar 30 menit.

Advertisements

7 thoughts on “Video Games sebagai Medium Naratif

  1. Wah wah..gamer sejati nih. Gamer sejati adalah gamer yang juga mengerti jalan cerita sebuah game. Saya juga suka game yang punya porsi cerita setidaknya 50%. Tapi saya pemain game Hp java bukan PC dll.

    1. hmm kalo game mobile agak susah kayaknya nyari yang menitik beratkan ke cerita, apalagi HP Java

      soalnya target market buat platform itu lebih ke game casual yang memang spesifik for fun aja sih 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s