Fanboy: Pokémon dipuja, Call of Duty dihujat

Kata-kata yang paling sering muncul saat perdebatan console

Pertama-pertama, saya menulis artikel ini tanpa ada maksud mendiskreditkan beberapa seri game yang cukup terkenal (yang saya diskreditkan hanya fans-nya saja kok :p). Beberapa bulan terakhir ini saya mulai lebih memperhatikan bagaimana komunitas gamer di seluruh dunia adalah komunitas yang sangat beragam, dalam satu forum gaming saja kita dapat menemukan mulai dari game developer, pelajar, guru, tentara, sampai dokter yang aktif. Diantara beragam jenis orang itu, pasti akan ada satu kelompok yang, yaaah, bisa dibilang sedikit mengesalkan, untuk komunitas gamer biasanya orang-orang tersebut dipanggil dengan istilah Fanboy. Definisi fanboy sendiri menurut urbandictionary adalah “Someone far beyond a simple fan.  No, not the type of fan which keeps people cool.”
Fanboy sendiri ada banyak jenisnya, yang berhubungan dengan komik ada Marvel fanboy dan DC fanboy, yang berhubngan teknologi ada Microsoft fanboy dan Apple fanboy, sedangkan yang paling ramai adalah fanboy video game. Untuk video game kategori fanboy bisa dibagi ke berbagai macam hal yang diributkan, untuk console war ada Microsoft fanboy, Sony fanboy, dan Nintendo fanboy, sedangkan untuk jenis game ada Japanese game fanboy dan Western game fanboy. Di bawah ini saya akan memaparkan beberapa hal yang membuat saya cukup heran dengan fanboy-ism, kalau misalnya ada hal yang salah dari list saya ini tolong bantu jelaskan ya :

–          Pokémon dipuja, Call of Duty dihujat

Cover game ke enam seri Call of Duty, Modern Warfare 2

Call of Duty adalah sebuah game First Person Shooter (FPS) milik Activision. Game ini sangatlah populer baik untuk fitur single player maupun multi player-nya. Seri ini pertama muncul tahun 2003 dan sampai sekarang sudah ada total 9 game dalam seri Call of Duty. Jumlah yang cukup banyak dalam waktu yang singkat kan? Activision memang setiap tahunnya merilis game Call of Duty baru, development game ini sendiri tidak diserahkan ke satu perusahaan saja, tapi dibagi ke beberapa developer. Belakangan ini, walaupun memiliki angka penjualan yang fantastis, banyak gamer yang sering menghina seri Call of Duty, bahkan sekarang sebutan “Call of Duty Fanboys” sering dipakai untuk menghina gamer lain yang dianggap redneck dalam komunitas game (baca: dianggap kampungan / alay). Perlakuan terhadap Call of Duty ini salah satunya disebabkan oleh sedikitnya peningkatan gameplay atau grafis yang dimiliki setiap serinya, sehingga banyak gamer yang menganggap Call of Duty hanyalah sebuah game untuk mengeruk uang dari para “Call of Duty Fanboys” tersebut, walaupun jumlah penjualan game ini cukup kontradiktif dengan banyaknya hinaan yang diterima. Saya sempat juga membahas mengenai hal ini di tulisan saya yang lain, Efek Samping Kemajuan Teknologi dalam Industri Video Games.

Pocket Monster (Pokémon) adalah sebuah franchise milik Nintendo. Awalnya franchise ini muncul sebagai game RPG untuk Game Boy yang didevelop oleh Game Freak pada tahun 1996. Franchise Pokémon sendiri tidak hanya sebatas video game, tapi juga menyentuh pasar anime, manga, Trading Card Game, mainan, serta berbagai jenis media hiburan lainnya. Seri ini populer karena banyaknya monster-monster unik dan lucu yang bisa ditemukan di dunianya, pada generasi pertamanya saja sudah terdapat 151 Pokémon, sekarang sendiri franchise ini sudah mencapai generasi ke lima dan memiliki total lebih dari 650 jenis Pokémon. Seri game Pokémon bisa menjadi sangat populer karena gameplay-nya yang menggabungkan RPG dengan unsur monster breeding. Setiap seri Pokémon pun selalu dinanti oleh fans dan biasanya memiliki angka penjualan yang tinggi. Padahal, hampir setiap main series Pokémon bisa dibilang memiliki gameplay, storyline, dan grafis yang sangat mirip, hampir identik malah. Anehnya, fans justru menganggap konsistennya gameplay Pokémon adalah nilai jual utama dari seri ini, padahal banyak orang yang sama menganggap Call of Duty dengan gameplay yang tidak jauh beda “konsistensinya” itu tidak kreatif.

151 Pokémon generasi pertama, plus Jesse & James dari Team Rocket

Hal ini jujur membuat saya sangat bingung, karena setiap saya tanyakan para fans langsung, semuanya langsung menjawab bahwa bertambahnya tipe Pokémon adalah perubahan signifikan, beberapa perubahan minor pada gameplay juga dianggap sebagai suatu hal yang besar. Tapi saat saya tanya soal Call of Duty yang juga memiliki perubahan minor di gameplay-nya, serta mungkin ada tambahan item seperti senjata dan lain-lain, orang-orang hanya dapat menjawab “it’s different for Pokémon okay”. Karena jawaban yang tidak memuaskan itulah, saya berani mengambil kesimpulan bahwa Pokémon yang sudah memiliki sejarah lebih lama daripada Call of Duty lebih berhasil merubah fans-fansnya menjadi fanboys. Hal ini juga mungkin dipengaruhi aspek lain seperti nostalgia. Nostalgia bisa menjadi sebuah halangan jika seseorang ingin mencoba menilai sesuatu secara objektif. Mungkin saja Pokémon yang pertama rilis saat fans-fansnya masih anak-anak berhasil menanamkan nilai nostalgia yang tinggi dibandingkan dengan Call of Duty yang rilis pertama saat fans-fans Pokémon sudah remaja atau lebih tua.

–          Game itu harus susah

Banyak orang yang bermain game karena menginginkan tantangan, tapi tidak sedikit juga orang yang bermain game untuk menikmati cerita dan dunia yang disajikan dalam game tersebut. Tentu saja hal ini hanyalah masalah selera, oleh sebab itu kalau kita lihat banyak game-game yang menyediakan Easy Mode atau Story Driven Mode khusus untuk gamer yang hanya ingin mengikuti cerita dari game tersebut. Namun kadang-kadang Easy Mode saja tidaklah cukup, seperti artikel dari Kotaku yang ditulis oleh Jason Schreirer yang berjudul Maybe All Games Should Have A ‘Very Easy’ Mode. Bahasan dalam artikel tersebut menitik beratkan pada game hasil kolaborasi Level-5 dan Studio Ghibli yang berjudul Ni no Kuni. Ketenaran nama Studio Ghibli, serta indahnya dunia dalam Ni no Kuni banyak membuat fans Ghibli yang bukan dari kalangan gamer ingin ikut masuk ke dalam dunianya, sayangnya untuk orang yang tidak terbiasa bermain game, Easy Mode dalam Ni no Kuni saja tidak cukup mudah bagi mereka, itulah sebabnya Jason di tulisan ini mengungkapkan kalau mungkin semua video games perlu yang namanya “Very Easy Mode”.

Screen shot dari Ni no Kuni

Saya sendiri sangat setuju dengan artikel tersebut, tapi saya sangat heran saat banyak sekali gamer lain yang tidak ingin video games punya mode Very Easy Mode. Alasannya rata-rata cukup konyol, mulai dari yang mengatakan kalau mau menikmati naratif lebih baik nonton film atau baca buku saja, sampai alasan egois yang bilang kalau tidak bisa main game lebih baik tidak usah mencoba main. Jelas tanggapan-tanggapan yang ada banyak sekali yang berkesan egois, seakan-akan beberapa gamer tersebut hanya ingin orang orang tertentu saja yang pantas masuk “exclusive club” ini. Padahal kalau memang mereka tidak suka dengan ide Very Easy Mode itu, yang perlu mereka lakukan hanyalah tidak memperdulikannya. Para gamer-gamer fanboy seperti ini juga banyak yang menganggap seseorang bisa dikategorikan sebagai hardcore gamer hanya jika mereka memainkan game dalam tingkat kesulitan yang susah.

Sejauh ini dua hal di atas adalah yang selalu muncul pertama kali saat saya mendengar kata-kata fanboy, masih banyak lagi tingkah-tingkah aneh yang biasanya dimiliki fanboy, tapi untuk sementara saya hanya membahas hal-hal di atas. Mungkin ke depannya akan saya tambahkan gejala-gejala serta keanehan lainnya yang mungkin bisa dilihat dari fanboy.

Advertisements

7 thoughts on “Fanboy: Pokémon dipuja, Call of Duty dihujat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s