Video Games Sebagai Medium Naratif: Part 2

Promotional Image untuk The Walking Dead, salah satu game dengan unsur naratif yang sangat kental

Tadinya saya berniat untuk melanjutkan saja artikel saya sebelumnya yang berjudul Video Game Sebagai Medium Naratif. Tapi setelah dipikir-pikir, rasanya kurang enak kalau satu artikel dibuat terlalu panjang, orang yang mau baca juga bisa jadi malas malahan. Jadi sekarang saya akan membahas game naratif lain di artikel ini, seandainya jumlah game yang dibahas di sini sudah 4, maka akan muncul juga Part 3 dari artikel ini. Untuk sementara game yang akan saya bahas baru satu, expect more update soon though.

  – The Walking Dead
Game pertama yang akan saya bahas di artikel part 2 ini adalah sebuah game dengan setting universe yang sedang cukup happening 3 tahun belakangan ini. Game yang saya maksud adalah The Walking Dead, sebuah game besutan Telltale Games, developer yang memang terkenal akan game mereka yang sangat story driven. The Walking Dead adalah sebuah seri komik karangan Robert Kirkman yang diterbitkan oleh Image Comics. Setting dari seri ini adalah mengenai kehidupan di daerah Amerika Serikat setelah secara tiba-tiba terjadi zombie apocalypse. Komik ini sangat populer sampai-sampai 6 buku pertamanya sudah termasuk barang langka berharga jutaan walaupun baru berumur 10 tahun. Seri ini mendapat perhatian lebih banyak setelah AMC menayangkan TV Series yang diangkat dari komik ini. Dengan pamor yang dimiliki, tentu saja ekspetasi orang sangatlah besar terhadap game besutan Telltale ini, dan memang mereka berhasil membuat sebuah game ber-setting zombie apocalypse yang biasanya dikuasai genre survival horror atau action menjadi sebuah game bergenre adventure dengan aspek drama yang sangat kental. Tidak mengherankan juga kalau game ini berhasil mendapatkan banyak penghargaan tahun lalu, termasuk penghargaan Game of the Year dari beberapa website dan award gaming yang ada. Menurut saya pribadi game ini memang sangatlah luar biasa. Beberapa aspek yang membuat game ini lebih dari yang lain diantaranya adalah:

  • Story

Who am I kidding?! Ini artikel mengenai game yang berat unsur naratifnya, wajar saja kalau game ini memiliki kualitas storyline yang extraordinary. Tapi selain storyline-nya yang ciamik, game ini juga berhasil membuat gamer merasa simpatik kepada karakter-karakternya.

Lee dan Clementine

Perasaan simpatik terhadap karakter ada yang berasal dari background masing-masing karakter, ada juga dari hubungan antara karakter yang ada. Hal ini paling bisa dilihat dari hubungan karakter yang kita mainkan, Lee Everett, dengan Clementine, seorang gadis kecil yang terpisah dari keluarganya dan bertahan hidup sendiri selama berhari-hari di rumahnya. Semenjak Lee bertemu dengan Clementine, saya langsung menempatkan diri saya dari sudut pandang Lee dan merasa perasaan yang sangat besar untuk melindungi Clementine. Jarang ada cerita, baik film, buku, maupun game, yang bisa memberikan koneksi antara karakter dengan konsumennya dengan begitu cepat, namun Telltale berhasil melakukan hal itu melalui karakter Clementine yang sangat hidup ini.

  • Graphic

Graphic dari game ini tidak terlalu berat dan menyiksa hardware, namun game ini meiliki style yang cukup unik. Telltale sendiri mengakui di salah satu FAQ mereka bahwa style yang cukup unik ini terinspirasi dari gaya gambar Charlie Adlard di komik The Walking Dead, walaupun menurut saya pribadi karakter-karakter game ini lebih cocok kalau dibandingkan dengan gaya gambar Tony Moore, ilustrator untuk komik The Walking Dead dari nomor 1 hingga 6.

Lagi-lagi Lee dan Clementine

Style grafik game ini juga cukup membantu membuat player merasa lebih dekat dengan karakter-karakter dalam game. Ekspresi karakter tergambar sangat jelas di game ini, tidak seperti game L.A. Noire yang menggembar gemborkan mengenai detail grafik game mereka terutama mengenai ekspresi karakter, tapi yang ada saya malah jadi bingung saat memainkan game mereka. Kembali ke The Walking Dead, ekspresi karakter game ini akan sangat mudah terlihat jika kita meperhatikan karakter favorit saya di game ini, Clementine. Ekspresi Clementine berasa sangat…hmm….adorable mungkin (now I sound like a pedophile I think -_-).

  • Sound

Game ini juga memiliki kualitas background music dan voice acting yang luar biasa. Musik yang menjadi background sangatlah tepat untuk membawa gamer masuk ke dalam dunia The Walking Dead, baik itu saat keadaan tenang maupun saat kejadian menegangkan sedang terjadi. Sedangkan untuk voice acting, cukup dengarkan saja suara Clementine (I really need to stop praising Clementine). Saya rasa hal-hal yang saya sebutkan diatas cukup untuk membuktikan kalau tidak mengeherankan Telltale’s The Walking Dead pantas mendapatkan berbagai macam penghargaan, dan tidak pantas untuk dibandingkan dengan game dari seri yang sama yang mendapatkanreview yang sangat menyedihkan dari mana-mana, The Walking Dead: Survival Instinct. Hanya ada satu hal yang saya sayangkan dari game ini, sepertinya Telltale terlalu malas untuk membuat game ini memiliki control yang bisa di setting, sehingga banyak gamer yang merasa kurang nyaman dengan kontrol yang mereka sediakan, hal ini tentu saja berdampak sangat besar di region yang menggunakan keyboard AZERTY. Semoga saja mereka memperbaiki hal ini di The Walking Dead Season 2 atau game mereka berikutnya yang diangkat dari serial komik Fables, The Wolf Among Us.

The Survivors

The Walking Dead sendiri bisa didapatkan di PSN untuk pengguna PS3 (Episode 1 gratis lho di PSN), XBLA untuk pengguna Xbox 360, dan di Steam untuk pengguna PC atau Mac.

Advertisements

2 thoughts on “Video Games Sebagai Medium Naratif: Part 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s