Fanboy Part 2: Developer favorit selalu benar.

Peacock, salah satu playable character dalam game fighting Skullgirls

Masih berhubungan dengan artikel saya sebelumnya, Fanboy: Pokémon dipuja, Call of Duty dihujat, sekarang saya mau membahas satu keajaiban lain yang mungkin terlihat dari seorang fanboy. Keajaiban yang satu ini masih berhubungan dengan pandangan saya mengenai Pokemon dan Call of Duty di artikel sebelumnya. Tapi kali ini saya mau melihat dari sudut pandang yang sedikit berbeda. Jika artikel sebelumnya lebih membahas fanboyism dari seri game tertentu saja, sekarang saya mau membawa pembahasan ke sesuatu yang lebih general, yaitu hubungan fanboy dengan publisher dan developer sendiri (walaupun masih membahas sedikit juga soal hubungan fanboy dengan sebuah seri game).

–          Valve selalu benar

Gabe Newell, Managing Director Valve. Hasil karya user deviant art freddre

Zaman sekarang gamer mana sih yang tidak pernah dengar nama Valve. Developer yang terkenal dengan seri-seri super laris seperti Half-Life, Team Fortress, Left 4 Dead, DOTA2, serta aplikasi distribusi game digital paling terkenal saat ini, Steam. Selain dari game buatan mereka, Valve sangat terkenal karena sifat mereka yang tidak suka “menyiksa gamer” seperti raksasa lainnya di industri ini. Di saat developer lain meng-abuse sistem Free to Play (F2P) habis-habisan, Valve menggunakan sistem ini untuk sesuatu yang optional tapi banyak digemarin gamer. Saat developer membuat sistem Digital Rights Management (DRM) yang menyusahkan gamer seperti Ubisoft dengan always online mereka, Valve membat DRM yang nyaman dan tidak menyusahkan untuk dipakai seperti Steam. Dan di saat developer-developer lain menjual game dengan harga tinggi dan dipisah-pisah (baca: DLC) dan tanpa mereka sadari malah memperparah pembajakan, Valve dengan Steam-nya mengurangi angka pembajakan dengan Steam Sale mereka . Satu-satunya hal yang gamer mungkin benci dari Valve adalah kemalasan mereka untuk merilis game tepat waktu (baca: Half Life 3).

Kefanatikan terhadap Valve bukan saja muncul dari service mereka kepada gamer, tapi juga dari cerita-cerita mengenai nikmatnya bekerja di Valve. Bagaimana kehidupan para pekerja Valve bisa dilihat di handbook untuk pegawai baru mereka yang bocor ke publik melalui internet. Selain handbook yang terlihat menjanjikan (baru terlihat lho ya, nggak tau deh gimana faktanya), review dari pekerja-pekerja Valve yang ada di website Glassdoor juga terlihat jauh lebih menarik dibanding review kepada perusahaan game lainnya. Kecintaan terhadap Valve juga bisa dilihat dari banyak fan art menggambarkan Gabe Newell, bos besar dari Valve sendiri.

Wat de Fak?! Gaben’s pillow?!

Tapi kecintaan banyak kalangan gamer terhadap Valve bisa dibilang sudah mencapai taraf cinta buta. Mereka memang telah berkontribusi banyak kepada hal-hal positif di industri video game saat ini, tapi kenyataan bahwa mereka pernah melakukan hal-hal yang menyebalkan sebagai sebuah perusahaan tetap tidak bisa dipungkiri. Seperti pada Februari 2013 kemarin, Valve memecat beberapa lusin karyawan mereka, dan komentar dari internet tidak jauh-jauh dari “They must have their reason”. Tapi, seandainya berita pemecatan ini berasal dari developer lain, siap-siap saja untuk membaca berbagai jenis makian dari manusia-manusia di internet ini. Selain itu Valve juga membuat sebuah peraturan bodoh untuk salah satu fitur brilian mereka. Yes, I’m talking about you Grennlight! Ide mereka untuk membuka sebuah platform yang meberikan kesempatan kepada developer-developer kecil untuk menjual game-nya di Steam adalah sangat brilian. Tapi kenapa mereka harus membuat developer yang sudah pernah menjual game mereka di Steam sebelumnya harus ikut seleksi Greenlight juga, ini tentu hal yang sangat aneh karena selain sudah cukup obvious game mereka dapat masuk Steam, ini juga memperkecil kemungkinan developer kecil lainnya untuk lolos seleksi Greenlight. Yah mungkin saja seperti yang biasa fanboy Valve katakan, “They must have their reason”.

 

–          Skullgirl is the bezzzt fighting game ever

Promotional image Skullgirls, hasil karya Alex Ahad

Topik kedua yang mau saya bahas berhubungan dengan sebuah game fighting indie untuk PSN dan XBLA, game yang maksud adalah Skullgirls. Skullgirls adalah sebuah game fighting yang harus saya akui, sangat bagus. Game ini memiliki gameplay yang menarik baik untuk seorang newbie maupun seorang veteran game fighting. Art direction game ini juga sangat menarik, selain style gambar khas Alex Ahad yang memang bagus, sprite-sprite high-definition dari game ini juga semuanya hasil gambar tangan. Sayangnya art direction ini harus dirusak dengan fan service yang berlebih (hmm atau justru ini kelebihannya yaa). Musik game ini juga sangat luar biasa, rata-rata genre musik di game ini adalah jazz hasil besutan komposer  Michiru Yamane.

Hal yang mau saya kritisi dari game ini berhubungan dengan projek crowdfunding di IndieGogo yang bertujuan untuk mendanai DLC karakter pertama mereka. Memang game ini memiliki kualitas yang sangat bagus, tapi rasa-rasanya tidak masuk akal untuk meminta $150.000 hanya untuk membiayai DLC yang berisi sebuah karakter. Yap, mereka meminta $150.000 atau kalau kita konversikan dalam rupiah berarti sekitar Rp 1.500.000.000!! Cukup gila bukan, mengingat developer lain, seperti Digital Happiness dari Indonesia saja hanya meminta $25.000 untuk sebuah full-game 3D berjudul DreadOut (walaupun mungkin living cost di barat dan Indonesia harus dipertimbangkan juga di sini).

Cost breakdown untuk DLC karakter pertama Skullgirls, Squigly

Lebih gilanya lagi, permintaan mereka untuk dana sebesar itu dapat tercapai hanya dalam waktu 1 malam! That’s the power of fanboys for you. Dengan dana sebesar itu tentu saja banyak gamer yang berkomentar bahwa itu terlalu mahal, tapi banyak gamer lain yang mengatakan biaya itu cukup masuk akal untuk karakter yang tiap frame sprite-nya (katanya) digambar dengan tangan. Oke kalau memang biaya itu masuk akal, tapi mereka meminta tambahan $25.000 untuk menambah story mode, level, dan soundtrack untuk karakter itu. Terlihat banyak bukan untuk sekedar $25.000, menurut saya jelas tidak mengingat story mode-nya hanya berupa text dengan beberapa artwork, level hanya berupa gambar dengan sedikit animasi berulang, dan musik yang perlu diciptakan hanyalah satu buah saja.

Pada akhirnya campaign crowdfunding ini berhasil meraup kira-kira $830.000 dan akan memberikan fans 5 karakter baru serta beberapa tambahan lainnya. Walaupun terlihat cukup mata duitan, sisi positif dari crowdfund ini adalah nantinya DLC karakter akan menjadi gratis untuk tempo waktu tertentu, guess they are not so evil after all.

 

Saya rasa dari 2 poin di atas kita dapat mengambil kesimpulan, kalau sekali saja kita berhasil menyenangkan fanboy, kesetian mereka selamanya sudah ada di tangan. Tapi berbuat salah sedikit saja, siap-siap menerima banyak kebencian (walaupun tetap menerima banyak keuntungan juga) seperti yang dialami raksasa industri seperti EA, Activision, dan Square Enix.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s