Kemajuan Teknologi yang Menurunkan Ekspektasi

Beberapa dari kalian yang mengikuti perkembangan berita di industri video game pastinya sudah tahu soal spesifikasi yang dimiliki konsol-konsol next-gen seperti PlayStation 4, Xbox One, dan Wii U. Kalian juga tentu pernah mendengar atau melihat bagaimana keputusan Microsoft dengan limitasi Xbox One membuat fans-fans banyak yang kecewa dan membuat mereka jadi bahan cemoohan di internet, sampai akhirnya membuat Microsoft menarik lagi seluruh limitasi-limitasi bodoh yang akan mereka sertakan dalam Xbox One. Kalian juga tentunya sudah melihat bagaimana reaksi fans terhadap keputusan yang diambil Sony mengenai bagaimana cara PlayStation 4 bekerja.

Salah satu gambar GIF yang banyak tersebar di internet pada saat E3 2013 berlangsung

Di saat kita berpikir kemajuan teknologi akan membuat pengguna hardware dan software semakin bebas dan nyaman, produsen justru semakin membatasi apa yang bisa user lakukan. Ironisnya, hal ini malah membuat fitur-fitur yang sudah kita miliki dari dulu menjadi sebuah fitur yang spesial. Ada beberapa contoh dimana hal yang sudah sewajarnya menjadi hak dari user, sekarang malah dianggap sebagai hal yang spesial. Contoh teknologi yang seharusnya customer friendly tapi malah sering merugikan user sendiri atara lain adalah:

–          Digital Rights Management (DRM)

Digital Rights Management (selanjutnya disingkat DRM) adalah suatu metode yang digunakan oleh publisher, developer, atau seniman untuk melindungi produk mereka dari tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab (hacker atau cracker) atau orang-orang yang tidak berhak menggunakan produk mereka (pengguna produk bajakan). Ironisnya, golongan yang paling banyak dirugikan dari DRM ini biasanya adalah user yang jujur, sedangkan pembajak atau pengguna bajakan pada akhirnya akan menemukan jalur alternatif, yang ironisnya lagi, jauh lebih nyaman dibanding jalur yang jujur tersebut.

Terdapat banyak jenis DRM yang ada, mulai dari paling merugikan (tentu saja merugikan pelanggan, bukan pembajak), sampai yang paling unik sehingga malah membuat game yang bersangkutan dapat sorotan banyak dari media. Salah satu contoh DRM paling terkenal dan paling menyusahkan gamer adalah always online DRM. DRM jenis ini mewajibkan gamer untuk selalu terhubung ke internet meskipun game yang mereka mainkan adalah game single player. Hal ini tentu saja membuat para gamer yang telah legal membeli game menjadi sangat tidak nyaman memainkannya, mengingat koneksi internet yang betul-betul stabil masih sangat sulit ditemukan. Bandingkan ketidak nyamanan dari pelanggan itu dengan kenyamanan yang didapatkan oleh gamer yang memainkan versi bajakan, pengguna bajakan dapat merasakan experience yang sama dengan gamer yang telah membeli dengan legal, hanya saja experience yang mereka rasakan itu jauh lebih nyaman daripada pengguna legal tersebut. Hal tersebut sudah jelas menunjukan bahwa always online DRM ini adalah sebuah praktek bodoh yang anehnya masih tetap diterapkan sampai sekarang. Praktek always online DRM ini terkenal digunakan oleh Ubisoft untuk game-game mereka seperti Assassin’s Creed, Prince of Persia, dan lain sebagainya. Selain Ubisoft praktek ini juga digunakan Blizzard dan Electronic Arts (selanjutnya saya singkat EA) untuk game Diablo III dan SimCity (bukan SimCity yang pertama keluar dulu, tapi game kelima seri ini yang dirilis pada tahun 2013). Diablo III dan SimCity menunjukan pada dunia bagaimana penuh cacatnya prakter always online DRM ini, kedua game ini adalah game berkualitas yang sudah ditunggu jutaan fans di seluruh dunia, konyolnya kepopuleran game ini dan keputusan bodoh dengan penggunaan DRM malah mebuat game ini hancur di mata gamer dan media. Saking banyaknya orang yang mau bermain dua game tersebut, sampai-sampai server yang disiapkan untuk menampung DRM dua game ini sering down dan membuat banyak orang tidak dapat memainkan game ini sama sekali. Selain server yang tidak mampu menampung jumlah pemain yang online, DRM ini juga beberapa kali menemui masalah dari hacker yang menyerang mereka hanya demi menunjukan bahwa praktek menyusahkan pelanggan yang mereka lakukan itu salah.

Selain dari SimCity, tahun ini kita juga mendengar berita mengenai bentuk DRM yang paling menyusahkan pengguna, yaitu Microsoft Xbox One. Saat diumumkan 21 Mei 2013 kemarin, Microsoft memperkenalkan fitur yang sangat penuh dengan batasan sebagai DRM Xbox One. Gamer yang hendak memainkan Xbox One mereka diharuskan untuk online minimal 24 jam sekali, penggunaan game bekas betul-betul dibatasi habis-habisan, konsol yang dijual dipaket dengan peripheral mahal yang bisa dibilang bukan favorit semua orang, Kinect. Belum selesai berbagai batasan-batasan yang diberikan, pada E3 2013 Microsoft menambahkan daftar mereka dengan berbagai game yang mewajibkan online meskipun mode yang dimainkan adalah single player, region lock untuk game-game XboxOne, serta batasan region yang membuat Xbox One hanya dapat digunakan di beberapa negara saja.

Berbeda dengan Microsoft, Sony dengan PlayStation 4 sebagai saingan terbesar Xbox One mengumumkan sebuah konsol yang sangat user friendly. Jika Xbox One muncul dengan berbagai DRM yang membatasi gamer, maka PlayStation 4 muncul dengan… well, mereka muncul dengan nyaris tanpa perubahan dari PlayStation 3. Salah satu perubahan yang paling signifikan, selain dari segi hardware tentunya, adalah PlayStation 4 akan mewajibkan penggunanya untuk terdaftar dalam PS Plus jika mereka mau bermain online. Tidak banyak orang yang protes akan hal ini karena memang PS Plus sudah menjadi fitur yang sering dipuji banyak orang dari generasi gaming yang sekarang.

Lucunya, Sony yang nyaris tidak melakukan perubahan pada konsolnya ini menerima sambutan yang luar biasa meriah dari gamer di seluruh dunia. Setelah presentasi Sony di E3 2013, internet dipenuhi dengan komen-komen serta gambar-gambar lucu yang memuja-muja Sony dengan PlayStation 4-nya sembari menghina Microsoft dengan Xbox One-nya. Hal ini sebenarnya bisa dibilang cukup menyedihkan, karena apa yang Sony tawarkan pada kita, gamer, adalah sesuatu yang memang sudah sewajarnya menjadi hak dari gamer. Saya pribadi tentu sangat senang dengan keputusan yang diambil Sony dengan PlayStation 4, tapi saya juga berpikir, seandainya hal ini diumumkan 10 tahun yang lalu, ini bukanlah hal yang spesial, reaksi dari orang-orang tidak akan semeriah dan seheboh yang kita lihat sekarang. Hal ini membuat saya sadar betapa kita, sebagai gamer, sudah terlalu sering direnggut haknya oleh perusahaan-perusahaan licik, sehingga saat sebuah hal simpel yang sudah ada bersama kita dari dulupun sudah dikategorikan sebagai berita luar biasa. Hal ini mengingat kan saya pada kata-kata sutradara anime kawakan, Hayao Miyazaki, yang saya kutip dibawah ini.

“In order to grow your audience, you must betray their expectation”

Hayao Miyazaki

Apa yang komunitas video game di seluruh dunia rasakan sekarang sangat sesuai dengan kata-kata Miyazaki-sensei, ekspektasi kita akan teknologi video game yang mungkin muncul di masa mendatang sudah dibuat turun, jika 10 tahun lalu orang-orang bermimpi bisa bermain game dengan tingkat kebebasan yang luar biasa, maka sekarang cukup dengan mengurangi pengekangan saja gamer sudah merasa cukup senang. Kemajuan teknologi yang diharapkan dapat meningkatkan berbagai aspek dalam hidup, termasuk hiburan, malah membuat kenyamanan semakin terbatasi.

Meskipun begitu, bukan berarti segala sesuatu yang berhubungan dengan DRM adalah hal yang buruk. Ada juga beberapa contoh DRM yang sangat user friendly, atau bahkan menambah kualitas experience yang dirasakan gamer. Contoh yang pertama bisa kita lihat pada game berjudul Game Dev Tycoon, sebuah game simulasi dimana gamer akan berusaha membangun perusahaan game sebaik mungkin. Salah satu hal yang membuat game ini terkenal adalah bagaimana mereka mencoba melawan pembajakan. Tidak seperti publisher atau developer lain yang berusaha membuat game mereka tidak muncul di website-webiste sharing ilegal (yang sebenarnya adalah usaha yang sia-sia), Game Dev Tycoon versi bajakan dapat dijumpai dengan mudah di inernet, namun saat memainkan game versi bajakan, di tengah permainan perusahaan milik gamer akan sangat mudah mengalami kebangkrutan dengan alasan game yang mereka buat tidak laku di pasaran karena pembajakan. Sebuah sentilan yang sangat tepat sasaran, DRM ini tidak mengganggu gamer yang membeli game-nya dengan cara legal. DRM ini juga somehow membuat banyak pengguna bajakan yang beralih ke jalur legal, entah karena malu atau karena merasa terhibur dan simpatik dengan DRM super unik ini. Yang jelas, selain dari 2 hal di atas, hal yang paling sukses dicapai oleh DRM ini adalah exposure game ini dari media. Sampai setelah game ini dirilis, banyak gamer yang tidak tahu menahu mengenai eksistensi game ini, namun begitu DRM unik ini dibahas di berbagai website game, it’s a fortune bomb.

Selain implementasi DRM yang unik, ada juga implementasi DRM yang meningkatkan kenyamanan penggunanya. Contoh dari DRM dengan implementasi yang baik ini bisa kita lihat dari digital distributor milik Valve, Steam. Steam sebagai sebuah toko game digital berhasil menerapkan DRM yang malah menurunkan angka pembajakan. Hal ini mereka lakukan dengan cara menyediakan software yang menjadi semacam library untuk koleksi game dan software penggunanya, serta menyediakan fitur Cloud Save yang membolehkan seseorang melanjutkan progres game mereka di komputer lain, dengan syarat saat mereka menutup aplikasi game-nya, mereka sedang terkoneksi internet. Meskipun banyak memerlukan koneksi internet, Steam juga dapat diakses offline seandainya koneksi internet user sedang kurang baik, namun tentu saja saat pertama login di suatu komputer, koneksi internet tetap dibutuhkan untuk saat itu. Selain kenyamanan dalam menggunakan software dan mengatur library, Steam juga sukses sebagai toko digital karena promo serta diskon menggiurkan yang sering mereka tawarkan. Kehebatan-kehebatan steam ini tentu saja tidak langsung muncul begitu saja, pada waktu Steam baru dirilis banyak sekali orang yang membenci aplikasi ini, tapi seiring berjalannya waktu, Valve belajar dari pengalaman dan medan sehingga berhasil membuat Steam menjadi seperti Steam yang kita kenal sekarang ini.

Melihat kesuksesan Steam, mungkin saja jika diberikan kesempatan, DRM Xbox One dapat menjadi sesuatu yang menarik ke depannya. Walaupun saya pribadi cukup skeptis, karena pada saat Valve menerapkan Steam, mereka tidak punya patokan untuk belajar, sedangkan Microsoft sekarang sudah punya banyak patokan yang menunjukan kalau teknologi yang mereka tawarkan belum siap untuk dunia ini. Namun tentu saja kita tidak akan tahu bagaimana akhirnya, toh setelah menerima banyak hinaan dari fans, Microsoft memutuskan untuk menarik seluruh DRM yang mereka rancang untuk Xbox One, dan membuat Xbox One menjadi konsol standar tanpa banyak hal spesial yang bisa dijual.

–          Downloadable Content (DLC)

Banyak gamer dan game developer yang dari dulu berangan-angan bagaimana rasanya dapat menambah konten dalam game setelah game dirilis. Untuk gamer yang biasa bermain menggunakan PC mungkin dapat merasakan hal seperti ini dalam bentuk Expansion Pack, namun Expansion Pack biasanya muncul dalam ukuran yang besar, sehingga sulit jika developer hanya ingin menambah konten sedikit saja. Selain itu Expansion Pack juga memiliki harga yang lumayan mahal, biasanya Expansion Pack dibandrol dengan harga 50% dari full game.

Harapan akan teknologi untuk menambah konten ini terjawab dengan munculnya Downloadable Content (selanjutnya saya singkat DLC). Dengan adanya DLC, developer dapat menambahkan konten, baik kecil maupun besar, dengan mudahnya ke game yang sudah dirilis. DLC bisa dalam bentuk karakter tambahan, item tambahan, lokasi tambahan, atau bahkan set skenario panjang yang sebelumnya tidak ada di game. Harga yang ditawarkan DLC juga biasanya jauh lebih murah daripada harga Expansion Pack.

Melihat kemungkinan yang ditawarkan oleh DLC, tentu saja banyak orang berpikir DLC akan menjadi masa depan yang sangat cerah untuk industri video game. Sayangnya teknologi ini ternyata berhasil juga disalah gunakan oleh konglomerat-konglomerat yang memegang perusahaan-perusahaan besar. Demi keuntungan yang lebih, kita sekarang sering melihat istilah “Day 1 DLC” untuk game-game baru di pasaran. Padahal tujuan dari DLC awalnya adalah untuk menambah konten yang tidak terkejar deadline development atau baru terpikirkan setelah menerima feedback dari gamer. Selain waktu rilis yang mengesalkan, Day 1 DLC sering juga merupakan konten yang seharusnya terdapat di game asli namun sengaja dipotong demi keuntungan lebih. Rasanya fenomena penyalah gunaan DLC ini disampaikan dengan sangat tepat oleh gambar di bawah ini.

DLC ooh DLC…

Kita juga dapat melihat contoh DLC lain yang menurut saya bisa dibilang termasuk dalam grey area. Saya mengatakan hal tersebut karena memang jika dipikir-pikir DLC model ini bisa dibilang salah, tapi tidak salah juga. DLC yang saya maksud adalah DLC yang biasa muncul di game-game yang memiliki Free Play Mode atau Multiplayer Mode. Biasanya game-game seperti ini akan membuat DLC yang berisi level (map packs) atau items. Mungkin banyak orang akan beranggapan bahwa hal ini sudah sewajarnya ada, tapi banyak juga yang beranggapan kalau praktek ini hanyalah bentuk halus dan tidak terlalu merugikan dari Day 1 DLC.

Meskipun DLC sering kali disalah gunakan oleh para publisher, bukan berarti DLC adalah suatu hal yang murni mengesalkan. Contoh eksekusi DLC yang baik ditunjukan oleh Telltale Games melalui DLC dari game mereka, The Walking Dead, yang berjudul The Walking Dead: 400 Days. Meskipun banyak yang beranggapan 400 Days adalah DLC yang terlalu pendek, sebenarnya durasi DLC ini tidak jauh berbeda dengan durasi satu episode dari The Walking Dead. Hal yang membuat DLC ini terasa pendek disebabkan karena dalam durasi 1 sampai 2 jam, gamer disuguhkan dengan 5 cerita pendek dari sudut pandang yang berbeda. Bagi beberapa orang, termasuk saya pribadi, hal ini justru menunjukan kehebatan Telltale yang dapat membuat gamer merasa berhubungan dengan karakter-karakter fiksi buatan mereka dalam waktu yang sangat singkat, ini menunjukan kemahiran Telltale dalam membuat sesuatu yang pada tulisan saya sebelumnya saya sebut sebagai Digital Empathy. Selain Telltale, implementasi DLC yang bagus ditunjukan juga pada game-game seperti Skyrim dan Dishonored.

Screenshot dari The Walking Dead: 400 Days

Tidak semua DLC yang ada dalam satu game harus bermakna baik atau buruk sepenuhnya. Ada juga game yang menggabungkan prakter DLC sampah dengan praktek DLC yang baik. Game saya maksud di sini adalah seri Mass Effect buatan developer Bioware yang dipublish oleh salah satu publisher paling dibenci di dunia, EA. Mass Effect mengimplementasikan apa yang tadi saya sebut sebagai Day 1 DLC dengan sangat licik. Banyak konten-konten yang diberitakan tadinya merupakan bagian dari game utama terpaksa harus dihapus agar gamer harus mengeluarkan uang lebih untuk mengaktifkan konten tersebut. Meskipun begitu, Mass Effect juga memiliki beberapa DLC yang dirilis beberapa bulan setelah game rilis yang benar-benar menambah usia game dengan positif. DLC bagus yang mereka terapkan juga sering kali mendapat respon positif karena menambah cerita dengan apik, mengenalkan temat baru, dan berbagai jenis fitur-fitur baru lainnya, betul-betul berbanding terbalik dengan Day 1 DLC mereka yang benar-benar terlihat sebagai tempat mencari nafkah haram.

Selain dua contoh di atas, masih ada beberapa hal lain yang menunjukan bagaimana kemajuan teknologi malah menurunkan kualitas berbagai hal dalam hidup kita, dan berujung ke menurunnya ekspektasi kita semua akan hal-hal yang ada di sekitar kita. Contoh yang saya berikan hanya sebatas dalam industri video game, jika mau dibahas dalam berbagai aspek saya rasa ukuran pembahasan ini bisa jadi buku sendiri, bukan sekedar seuah post dalam blog.

Advertisements

One thought on “Kemajuan Teknologi yang Menurunkan Ekspektasi

  1. That’s why I love oldschool game. Where everything is simple, no DLC, no DRM. Just you and the game…

    *masih doyan banget sama emulator.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s