Video games dengan narasi yang inkonvensional

Beberapa bulan yang lalu saya mebuat dua tulisan mengenai video games sebagai medium naratif. Pada tulisan-tulisan saya tersebut, saya membahas lima game yang lebih menitik beratkan pada cerita daripada aspek lainnya. Salah satu game yang saya bahas saat itu adalah Dear Esther, sebuah game yang sangat unik baik dari cara penyampaian cerita maupun cara bermainnya. Pada saat menulis tulisan tersebut rasanya Dear Esther adalah satu-satunya game dengan narasi inkonvensional yang pernah saya mainkan, namun belakangan ini, saya mencoba beberapa game lain yang berhasil menyampaikan cerita dengan cara yang unik dan tidak umum. Game-game yang saya maksud antara lain adalah:

–          Hotline Miami

Hotline Miami adalah sebuah game besutan developer Denneton Games. Game ini memiliki unsur kekerasan yang sangat kental di dalamnya. Hotline Miami dirilis untuk platform Windows, Mac OS X, dan Linux. Port untuk Playstation 3 dan PlayStation Vita juga baru saja dirilis pertengahan 2013 ini.

Hotline Miami, sesuai judulnya, bersetting di kota Miami pada tahun 1989. Cerita dari Hotline Miami bisa dibilang cukup surrealist, salah satu contohnya adalah dengan bagaimana cerita dalam game ini disampaikan dari sudut pandang 2 playable character yang ada, namun masing-masing karakter menyampaikan cerita yang kontradiktif meskipun memiliki setting yang sama. Saya tidak akan menjelaskan dengan detail bagaimana cerita game ini supaya tidak memberikan bocoran kepada gamer yang ingin memainkannya, yang jelas siap-siap saja memutar otak kalau mau memahami betul-betul cerita game ini.

Bisa dibilang penyampaian cerita dalam Hotline Miami ini mirip dengan game seperti Braid atau Dear Esther. Kenapa saya bisa bilang begitu, karena meskipun memiliki cerita yang cukup dalam dan membingungkan, Hotline Miami hanya menyampaikan cerita dengan cutscene sangat pendek serta dari objek-objek yang ada di dalam game saja. Jadi seandainya ada gamer yang tidak tertarik dengan ceritanya, bisa menikmati game ini tanpa harus dibuat pusing atau harus menunggu cutscene panjang lebar.

–          Gravity Bone + Thirty Flights of Loving

Gravity Bone dan juga Thirty Flights of Loving buatan BlendoGames bisa dibilang merupakan salah satu game paling unik yang pernah saya mainkan. Dua game ini menyampaikan cerita yang bobotnya bisa disamakan dengan sebuah film, hanya dalam durasi kira-kira 15 menit! Walaupun mungkin kebanyakan orang akan perlu memainkan game ini lebih dari sekali untuk betul-betul memahami ceritanya, tapi itu tentu tidak menutup kenyataan bahwa apa yang dilakukan oleh BlendoGames melalui Gravity Bone dan Thirty Flighst of Loving adalah sesuatu yang luar biasa.

Brendon Chung, orang dibalik kejeniusan BlendoGames, menyajikan cerita hanya dengan menggunakan objek-objek yang tersebar di level yang bersangkutan, setelah itu pemain akan disajikan dengan objective yang sangat simple, dan hanya dalam beberapa detik karakter yang kita mainkan akan langsung lompat ke adegan yang berbeda lagi, semua ini dilakukan dengan pace yang sangat cepat. Selain itu, meskipun memiliki beberapa Non-playable Characters (NPC) yang sangat berpengaruh pada cerita, dua game ini juga hampir tidak memiliki interaksi verbal sama sekali dengan NPC-NPC yang ada.

Jika di antara kalian ada yang tertarik untuk mencoba game ini, kalian bisa mulai mencoba dari Gravity Bone yang bisa didapatkan dengan gratis di website BlendoGames. Give it a shot, setelah mencoba Gravity Bone tidak mengherankan jika anda akan cukup penasaran untuk membeli Thirty Flights of Loving yang sebenarnya adalah sekuel tidak langsung dari Gravity Bone.

–          Thomas Was Alone

Thomas Was Alone adalah sebuah game platformer buatan Mike Bithell. Game ini bisa dibilang termasuk salah satu game dengan puzzle yang membuat gamer berpikir tapi tidak menyusahkan sampai membuat yang main pun kesal. Game ini memiliki soundtrack dan narator yang luar biasa, sehingga gamer bisa betah melatih ringan otak mereka ditemani dengan suara-suara yang enak didengar.

Untuk ceritanya sendiri, sebetulnya cerita dan cara mempresentasikan cerita dalam Thomas Was Alone bisa dibilang cukup standar, namun yang membuat game ini spesial adalah karakter-karakter yang ada di dalamnya. Dalam game ini, gamer akan menggerakan beberapa program yang direpresentasikan dalam wujud berbagai jenis kotak dalam berbagai warna. Setiap kotak memiliki nama, karakteristik, dan kemampuan spesial masing-masing. Cerita dalam game dinarasikan oleh komedian sekaligus salah satu pengisi suara dari seri Assassin’s Creed, Danny Wallace. Petualangan kotak-kotak dengan karakteristik yang berbeda-beda ini disajikan dengan bagusnya melalui narasi Danny Wallace. Hebatnya lagi, Thomas Was Alone dengan suksesnya dapat memberikan efek digital empathy kepada pemainnya meskipun karakter dalam game tidak memiliki ekspresi sama sekali, heck, mereka bahkan tidak punya wujud yang jelas.

Sementara ini, itu saja game-game yang saya bahas di sini. Sebetulnya masih banyak sekali game yang menyajikan cerita dengan cara unik seperti Unfinished Swan, Journey, Digital: A Love Story, Analogue: A Hate Story, dan masih banyak lagi lainnya. Mungkin di lain waktu saya akan mencoba membahas game-game tersebut juga, setelah saya menyelesaikan game-nya tentunya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s