Earth X Heart Singapore: Jembatan Dari Jepang Menuju Seluruh Asia Tenggara

Sudah cukup lama sejak terakhir kali saya menulis tentang sesuatu yang tidak berhubungan dengan video game, dan rasa-rasanya pengalaman saya 20 Desember 2013 lalu merupakan momen yang tepat untuk mulai mencoba menulis sesuatu yang tidak berhubungan dengan video game sebagai selingan.

Hari itu hari Kamis, tanggal 19 Desember 2013. Saya memandangi kota Jakarta yang diguyur hujan melalui jendela kantor saya sambil mengutuk diri sendiri. Kenapa dengan bodohnya saya memilih untuk bersepeda ke kantor hari ini? Satu hari sebelum salah satu perjalanan paling penting yang akan saya alami di tahun 2013. Besok subuh-subuh saya harus sudah berangkat ke Soekarno-Hatta, sedangkan pukul 8 lewat dan saya masih terjebak di kantor, menunggu hujan reda sebelum menempuh perjalanan 15 km dari kantor ke rumah menggunakan sepeda. Sambil mondar-mandir jendela dan meja saya, saya terus menunggu hujan, jangan sampai cuaca dan kebodohan saya ini membuat saya jatuh sakit dan tidak bisa menikmati pertunjukan Asian Kung-Fu Generation dan Straightener besok.

Part I

Sekedar pengenalan saja sebelum kita masuk ke cerita saya, Asian Kung Fu Generation (atau biasa disingkat Ajikan) dan Straightener adalah dua band dari negeri sakura yang memiliki genre alternative rock dengan unsur-unsur indie, punk, dan rock n’ roll.

Saya pertama kali mendengar lagu Ajikan sewaktu kelas 2 SMP. Waktu itu sedang populer-populernya anime Naruto tersebar di kalangan penggemar anime di sekolah. Saya biasa mendapatkan anime Naruto dari saudara saya yang mengoleksi VCD bajakannya yang dirilis setiap bulan. Mulai episode 26, anime Naruto menggunakan lagu pembuka baru yang dinyanyikan oleh Ajikan berjudul Haruka Kanata. Begitu mendengar lagu ini, saya langsung saja tertarik untuk mencari mp3 dari lagu yang bersangkutan dan memutarnya berulang-ulang di komputer rumah.

Ketertarikan saya terhadap Ajikan semakin menjadi-jadi begitu saya menemukan beberapa teman di sekolah yang punya kegemaran yang sama terhadap anime dan musik Jepang. Bahkan di akhir masa SMP saya, saya bersama teman-teman sempat manggung di sekolah menyanyikan Haruka Kanata. Respon yang didapatpun juga cukup baik, agak mengejutkan juga mengingat saat itu musik Jepang masih belum terlalu populer di kalangan anak sekolahan.

Beberapa tahun setelah mengenal Ajikan, salah seorang kawan saya meminjamkan CD Nano-Mugen Compilation 2005. Pada saat itu band yang saya kenal baru Ajikan, Ash, dan Ellegarden saja. Di album itulah saya pertama kalinya saya mendengar Straightener melalui lagunya yang masih menjadi favorit saya sampai sekarang, White Room Black Star. Dari situ saya mulai mencari-cari lagu Straightener lainnya.

Part II

Setelah 10 tahun menjadi pendengar Ajikan, tentu saja sering sekali saya berangan-angan untuk dapat menonton mereka secara live. Tahun 2013 merupakan tahun yang bagus karena di pertengahan tahun Ajikan melakukan tur keliling Eropa yang merupakan tur luar Jepang pertama mereka. Saya langsung berharap semoga melalui tur ini Ajikan semakin membuka diri untuk akhirnya melakukan tur ke negara lainnya termasuk Indonesia.

Lalu pada pertengahan Oktober saya mendengar berita yang mengejutkan. Ajikan dan Straightener akan melakukan tur keliling Asia, dan Singapore adalah salah satu negara yang menjadi tujuannya. Kontan saya langsung bersemangat, saya sudah menduga dalam waktu dekat pasti Ajikan akan mampir ke Asia Tenggara, setidaknya Singapore terlebih dulu. Tapi Straightener? Tidak pernah terlintas dalam pikiran saya bahwa saya akan dapat menonton Straightener secara live tanpa harus pergi ke Jepang. Kesempatan ini jelas tidak boleh dilewatkan begitu saja.

Setelah melalui berbagai proses pembelian tiket yang menyebalkan melalui layanan website yang memonopoli penjualan tiket konser di Singapore, akhirnya saya berhasil mendapatkan tiket konser ini dengan bantuan teman saya. Saya pun mulai menyusun rencana untuk berangkat pagi-pagi di hari yang sama dengan hari acara, lalu menginap di bandara setelah selesai menonton sambil menunggu pesawat yang membawa saya ke Jakarta pagi esoknya. Sebelum berangkat saya juga janjian dengan beberapa anggota komunitas Fans Club Asian  Kung Fu Indonesia (FCAI) yang juga berencana untuk berangkat menonton Ajikan.

Tapi sebelum bisa menjalankan seluruh rencana saya, saya harus pulang terlebih dulu dari kantor. Tidak peduli hujan masih turun atau tidak.

Part III

Akhirnya hujan pun berhenti. Singkat cerita, saya akhirnya pulang, sampai rumah langsung packing dan akhirnya tidur. Baru 3 jam tidur, saya harus sudah bangun dan bersiap berangkat menuju Soekarno-Hatta. Karena sudah check-in dan tidak membawa bagasi, saya pun berangkat cukup santai. Sialnya di tiket yang saya pegang tidak tertulis di terminal manakah pesawat saya akan berangkat. Jadi 20 menit sebelum pesawat saya lepas landas saya masih berada di terminal yang bukan merupakan tempat pesawat saya berada.

Begitu mengetahui kalau saya salah terminal, saya langsung naik taksi menuju terminal yang benar. Di terminal itupun saya sempat terjebak oleh satu dan lain hal sampai akhirnya saya sempat naik ke pesawat saya tepat sebelum pesawat lepas landas. Karena nyaris terlambat, saya pun belum sempat bertemu dengan salah satu teman dari FCAI yang seharusnya naik pesawat yang sama dengan saya. Tapi saya tidak terlalu memikirkan hal itu, yang penting saya sudah duduk di pesawat yang hampir meninggalkan saya karena kebodohan saya sendiri. Oh well, shit happens.

Sesampainya di Changi, saya tidak berpikir banyak dan langsung mengurus imigrasi dan mencari tempat duduk untuk istirahat. Entah berapa lama saya istirahat, begitu saya sadar waktunya untuk bergerak, teman satu pesawat saya rupanya sudah sampai ke venue, saya pun segera menyusul. Di salah satu restoran fast food dekat venue, saya bertemu dan mengobrol dengan teman baru saya itu. Dan seperti biasa, fakta bahwa dunia itu sempit bekerja lagi di sini, tapi itu bukan hal yang perlu dibahas di sini rasanya.

Part IV

Karena venue masih sangat sepi dan masih ada 8 jam sampai acara dimulai, akhirnya saya dan teman saya memutuskan untuk berkeliling daerah sekitar venue sebentar. Saat tengah berkeliling, hujan turun cukup deras. Setelah menerobos hujan, kami kembali menunggu tidak jelas. Tidak lama setelah itu, tiba-tiba saja Kiyoshi, drummer dari Ajikan lewat bersama dengan seseorang yang tampaknya adalah manajer dari Ajikan. Hal tersebut terjadi begitu cepat sampai-sampai saya tidak sadar kalau drummer dari Ajikan baru saja melewati saya.

Setelah kejadian tersebut, muncullah ide untuk menunggu di depan gedung venue dengan harapan personil yang lainnya masih belum masuk ke venue. Saat menunggu personil Ajikan yang lain lewat, seorang wanita yang berasal dari Filipina duduk tidak jauh dari saya. Dia mengaku bahwa dia datang jauh-jauh dari Filpina untuk menonton konser Ajikan juga. Hal ini membuat saya cukup kagum mengingat jarak antara Filipina dan Singapore cukup jauh.

Tidak lama setelah itu, dari arah hotel yang terletak di sebelah gedung venue, muncullah Gotoh (vocal, guitar), Kita (guitar), dan Yamada (bass) bersama dengan manajer yang tadi saya lihat bersama Kiyoshi. Kontan saya, teman saya, si wanita dari Filipina, serta dua orang lain yang duduk di dekat situ langsung bangun dan menyiapkan kamera serta apapun yang bisa ditandatangani. Saya sendiri sudah menyiapkan sebuah spidol permanen dan cover CD album Sol-Fa yang sengaja saya bawa seandainya hal seperti ini terjadi.

Awalnya si manager melarang kami untuk mendekati Ajikan, namun Gotoh dengan santainya mengatakan “it’s okay…”. Saat saya hendak mengambil gambar teman saya dengan Gotoh, tangan saya gemetaran sampai saya tidak bisa mengambil gambar dengan benar. Saya hanya mampu berkata “I’m shaking”, membuat kru, staf, dan personel Ajikan tertawa. Setelah itu lagi-lagi dengan santainya Gotoh menjawab “don’t be, don’t be”.

Setelah mendapatkan tanda tangan saya mundur karena tidak enak kalau mengganggu para pengisi acara ini terlalu lama. Saat saya mundur, Gotoh malah menghampiri sambil bertanya, “do you want to take photo?”. Tanpa pikir panjang saya langsung berkata “of course!” dan akhirnya jadilah foto dengan Gotoh dan Kita seperti pada gambar di bawah.

Meskipun hanya berlangsung kurang dari 5 menit, itu merupakan pengalaman yang luar biasa bagi saya. Hampir 10 tahun saya mendengarkan lagu mereka, tidak pernah terpikirkan suatu saat akan dapat bertemu dengan mereka sedekat itu. Setelah berinteraksi langsung dengan personil Ajikan dan melihat keramahan mereka, respect saya terhadap mereka (terutama Gotoh dan Kita) pun semakin tinggi.

Tidak lama setelah itu fans-fans lain mulai datang ke venue dan antrian pun dimulai. Saat sedang mengantri saya bertemu dengan seorang fans dari Australia yang merekam film pendek tentang tur di Singapore ini. Melalui fans dari Australia yang berputar-putar mewawancarai orang-orang di antrian, saya mengetahui bahwa pengunjung yang datang ke konser ini tidak hanya berasal dari Singapore saja tapi ada juga yang datang dari Malaysia, Thailand, Filipina, dan dia sendiri dari Australia.

Selama menunggu di antrian saya juga berjumpa dengan beberapa fans yang datang dari Indonesia. Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya pintu venue pun dbuka dan hal pertama yang saya lakukan adalah mengunjungi booth merchandise. Setelah membeli satu kaos Straightener, saya pun mengambil posisi di depan panggung dan bersiap-siap untuk menikmati salah satu konser terbaik yang saya pernah saksikan.

Part V

Sebelum pertunjukan dimulai, terdengar suara dari panitia yang mengatakan bahwa penonton dilarang merekam atau mengambil gambar di acara ini. Di satu sisi ini adalah hal yang sangat bagus, penonton dapat menikmati konser dengan maksimal tanpa harus takut menyenggol dan merusak alat perekam milik orang lain saat mereka tengah asik-asik lompat-lompatan. Tapi di sisi lain, saya cukup sedih karena sepulangnya dari acara ini saya tidak bisa merasakan relive pengalaman saya menonton konser melalui YouTube seperti yang biasa saya lakukan setelah menonton konser lain. Oleh karena itu saya berniat untuk betul-betul menikmati konser ini secara maksimal.

Setelah menunggu persiapan di atas panggung yang tidak terlalu lama (jelas sangat beda dengan konser-konser di Indonesia), konser pun dibuka dengan penampilan dari band lokal bernama Aspectrum. Jujur saja awalnya saya cukup skeptis terhadap band ini, apa lagi setelah melihat bahwa mereka masih sangat muda dan tampak kurang berpengalaman. Tapi memang sesuai pepatah “don’t judge book by its cover“, penampilan dari Aspectrum betul-betul membuat panggung terasa sangat ramai.

Selain skeptis, tadinya saya juga merasa kasihan dengan mereka karena biasanya band-band pembuka untuk band asing kurang ditanggapi dengan positif oleh beberapa pengunjung. Namun lagi-lagi saya salah, pengunjung konser ini tampak sangat antusias menonton pertunjukan Aspectrum. Ekspresi terkejut juga terlihat di wajah personil Aspectrum yang sepertinya juga tidak terlalu yakin akan menerima respon positif dari penonton yang menunggu Straightener dan Ajikan. Menurut saya pribadi, kesuksesan Aspectrum sebagai pembuka ini tidak lepas dari kehebohan vokalis utama band ini yang tidak henti-hentinya lompat dan lari ke sana kemari sambil terus berinteraksi dengan penonton. Kudos untuk Aspectrum karena telah memberikan penampilan tak terduga yang sangat pas menjadi pemanasan untuk dua band sesudahnya.

Setelah Aspectrum selesai menyanyikan lima buah lagu (yang hebatnya dapat mereka selesaikan dalam waktu 20 menit) kru-kru dari Ajikan dan Straightener mulai siap-siap menyiapkan peralatan untuk Straightener tampil. Persiapan ini lagi-lagi diselesaikan dalam waktu yang cukup cepat, padahal barang yang disiapkan jauh lebih banyak daripada sebelum Aspectrum naik ke atas panggung. Tidak lama kemudian Straightener pun naik ke atas panggung dan mulai menyanyikan lagu A Long Way to Nowhere.

Dilihat dari respon banyak penonton serta komentar-komentar yang saya dengar di tengah keramaian, sepertinya banyak di antara penonton yang belum pernah mendengarkan Straightener sebelumnya. Meskipun begitu, Straightener bisa membuat seluruh penonton semangat dan lompat-lompatan (atau mungkin cuma saya yang lompat-lompatan sampai pusing dan berpikir penonton lain lompat-lompatan juga). Yang jelas meskipun banyak yang belum mengenal Straightener, para pengunjung venue terlihat sangat antusias menikmati seluruh pertunjukan yang disajikan. Walaupun terkadang saya sedikit merasa terganggu dengan kecintaan para penonton untuk bertepuk tangan, bahkan di saat yang tidak tepat juga.

Setelah menyanyikan 10 lagu, Straightener menutup pertunjukan mereka dengan lagu Melodic Storm dari album Dear Deadman. Pertunjukan dari Straightener betul-betul membuat perjalanan ini sudah terasa worth it, tapi tentu saja pertunjukan ini masih belum mencapai puncaknya. Selama pertunjukan Straightener, tas ransel saya terasa sangat mengganggu, jadi saya meminta tolong salah satu pengunjung yang saya sempat bertemu di depan venue untuk menaruh ransel saya di depan pagar pembatas. Setelah itu saya dan para penonton kembali menunggu para kru menyelesaikan tugas mereka di atas panggung.

Lagi-lagi dengan kecepatan bekerja yang mengagumkan, panggung pun siap dipakai. Tidak lama kemudian masuklah band utama kita hari itu, Asian Kung Fu Generation. Tanpa basa basi, mereka langsung memulai pertunjukan dengan menyanyikan Shinseiki no Love Song, lagu pertama dari album Magic Disk. Di tengah pertunjukan, Gotoh sebagai frontman dari Ajikan sempat mengobrol sebentar sambil menggaruk-garukan kepala dia. Inti dari kata-kata dia adalah mengenai bagaimana semua orang yang ada di sini datang dari etnis yang berbeda, kepercayaan yang berbeda, kebangsaan yang berbeda, dan warna kulit yang berbeda, tapi kita semua punya satu persamaan, “we all love music!”. Setelah itu Ajikan langsung melanjutkan konser mereka.

Setelah menyanyikan 9 lagu dengan beberapa aransemen tambahan yang luar biasa (Dat Rewrite maaan!), Ajikan pun mulai mundur ke backstage. Layaknya konser-konser yang lain, para penonton pun mulai berteriak meminta encore. Tidak lama kemudian Ajikan pun kembali lagi dan langsung menyanyikan lagu penutup mereka yang juga merupakan lagu pertama dari mereka yang saya dengar, Haruka Kanata.

Part VI

Setelah acara selesai, banyak penonton masih berkeliaran di dalam venue. Ada yang sekedar mengobrol atau bertegur sapa dengan sesama fans, ada juga yang mengantri membeli merchandise. Setelah venue semakin sepi, saya pun mulai berkumpul dengan fans-fans yang datang dari Indonesia juga. Sehabis berkenalan dengan beberapa teman yang sebelumnya terpencar, kami mulai menunggu di dekat pintu keluar belakang venue ditemani beberapa fans lain yang juga di sana untuk ikut “menggrebeg” Straightener dan Ajikan yang hendak kembali ke hotel.

Setelah menunggu beberapa menit, yang muncul pertama adalah kru yang mengatakan bahwa mereka tidak boleh mengambil gambar, hanya boleh salaman saja. Tidak lama kemudian personil Straightener pun mulai keluar sambil terburu-buru menuju hotel. Sehabis itu, selang beberapa detik, personil Ajikan pun ikut keluar dengan terburu-buru juga. Di saat para kru menyuruh para fans untuk tidak menghabiskan banyak waktu, Kita dari Ajikan lagi-lagi menunjukan keramahannya dengan berhenti dan bertanya pada fans apakah ada yang tertarik untuk tanda tangan. Setelah disuruh untuk menyusul personil yang lain, akhirnya Kita pun mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal kepada fans.


Selesai sudah perjumpaan saya dengan dua band yang saya sendiri masih tidak percaya dapat bertemu mereka tanpa menunggu lebih lama atau pergi lebih jauh. Setelah aksi “grebeg” tersebut, saya bersama dengan teman-teman yang lain mulai berjalan ke stasiun MRT terdekat untuk kembali ke Changi. Masih banyak cerita setelah itu, tapi tidak terlalu banyak berhubungan dengan Ajikan ataupun Straightener.

Semoga saja setelah ini dua band tersebut mau mampir ke Indonesia, kalau perlu sambil membawa teman mereka yang lain seperti The Hiatus, The Starbemz, Husking Bee, atau kalau perlu buat juga tur reuni Ellegarden dan Beat Crusaders bersama dengan band-band di atas. Ah well, a man can always dream.

Advertisements

5 thoughts on “Earth X Heart Singapore: Jembatan Dari Jepang Menuju Seluruh Asia Tenggara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s