Malam

Ketika aku kecil, aku suka bertanya, “kenapa manusia beraktivitas di siang hari?”

Sebagai seorang balita, momen-momen bermain dengan tetangga di malam hari adalah salah satu pengalaman paling menyenangkan. Mulai dari memori bermain kembang api, sampai ke pengalaman mendengarkan cerita-cerita seram yang tidak jelas asal-usulnya.

Sebagai seorang anak-anak, bisa bermain video game sesudah solat magrib adalah hal simpel yang paling fenomenal. Apalagi jika pengalaman itu dipadu dengan pengalaman begadang pertama sambil ditemani dengan sebuah JRPG yang kemudian akan menjadi legenda.

Sebagai anak yang sedang mengalami krisis identitas atas hobi yang dimilikinya, bisa melihat kartun seperti Neon Genesis Evangelion ditayangkan pada pukul 12 malam di hari Senin sampai Rabu adalah pengakuan paling membanggakan yang pernah aku terima.

Sebagai seorang remaja, kesempatan untuk berjalan-jalan bersama teman ketika malam hari tiba adalah hal paling seru untuk bisa dilakukan. Mulai dari sensasi palsu konyol yang membuatku merasa seperti anak bebas, sampai ke nikmatnya merasakan angin malam di kulit yang tidak ditutupi jaket. Walaupun memang sensasi ini memiliki konsekuensi yang sangat besar keesokan harinya.

Sebagai seorang mahasiswa, aaah nikmatnya merasakan kebebasan. Oh betapa banyaknya aktivitas yang bisa kulakukan ketika malam tiba. Bahkan aktivitas yang sewajarnya dilakukan ketika waktu belum terlalu larut seperti makan pun akan kulakukan tengah malam. Alasannya? Karena aku bisa.

Sebagai seorang “dewasa” yang sudah memiliki tanggung jawabnya sendiri dalam hidup, terasa begitu damainya perasaan pulang ke rumah untuk melarikan diri dari kepenatan bekerja sambil mengendarai kendaraan bermotor dengan deruan angin dingin yang sudah tidak terasa sespesial ketika aku remaja.

Kembali lagi ke pertanyaanku waktu kecil, “kenapa manusia beraktivitas di siang hari?” Kenapa kita tidak hidup di malam hari saja layaknya banyak makhluk nokturnal lainnya? Tidak perlu merasakan teriknya matahari yang mendidihkan otak dan menghitamkan kulit. Kita hanya perlu melihat terangnya lampu kota, indahnya bintang di angkasa, merasakan dinginnya hembusan angin, dan mendengarkan damainya hewan-hewan yang hidup di waktu tersebut.

Toh kita bukan tumbuhan yang perlu fotosintesis … dan kita jelas bukan makhluk planet Kripton yang butuh energi matahari untuk beraksi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s