Musik Punk dan Kisah Cinta Bocah SMP Berusia 25 Tahun

Dalam satu dekade, kehidupan seorang pria bisa berubah begitu banyak, namun tetap akan ada beberapa hal yang masih melekat sama bahkan setelah pria tersebut menjalani berbagai perubahan wajib dalam kehidupan manusia.

Dalam kasusku, hal yang tak berubah adalah musik punk.

Di usia 15 tahun, aku mendengarkan grup musik seperti Blink 182, Rancid, Greenday, Sum 41, Goldfinger, The Vandals, Ellegarden, Beat Crusaders, Me First and the Gimme Gimmes, dan masih banyak lagi. Di usia 25 tahun, pustaka musikku pun sudah berkembang begitu pesat, namun nama-nama di atas masih terus melekat, dan mendengarkan mereka sering sekali membawa nostalgia ke masa-masa paling penuh perubahan dalam hidup manusia … pubertas.

Membandingkan usia 15 dan 25 sangatlah mudah. Mari kita ambil satu parameter, suatu genre paling populer dalam kisah fiksi, jenis musik yang paling laku terjual, topik paling sering dibicarakan dalam sebuah rumpian, dan tema yang paling sering mengisi hati manusia sepanjang hidupnya … apalagi kalau bukan cinta.

Apa yang beda?

Ketika berusia 15, saat mengenal wanita yang bisa membuatku kepikiran sedikit saja selama beberapa hari, aku menyatakan sudah jatuh cinta.

Ketika berusia 25, saat mengenal wanita yang bisa membuatku gila selama berbulan-bulan meskipun secara logika hal ini tidak mungkin terjadi, aku menyatakan kalau ini bukan cinta.

________________

Ketika berusia 15, hanya butuh waktu beberapa hari bagiku untuk menyatakan perasaan yang entah pasti atau tidak.

Ketika berusia 25, butuh waktu bulanan bagiku untuk membayangkan menyatakan perasaan yang entah pasti atau … pasti?

________________

Ketika berusia 15, sebuah kata-kata murahan dari novel, film, atau komik sudah cukup untuk menggambarkan cinta di kepalaku.

Ketika berusia 25, butuh sebuah paragraf pembuka yang luar biasa untuk memberikan gambaran tentang cinta ke kepalaku. Paragraf tersebut diambil dari novel Sputnik Sweetheart karangan Haruki Murakami yang berbunyi begini:

In the spring of her twenty-second year, Sumire fell in love for the first time in her life. An intense love, a veritable tornado sweeping across the plains—flattening everything in its path, tossing things up in the air, ripping them to shreds, crushing them to bits. The tornado’s intensity doesn’t abate for a second as it blasts across the ocean, laying waste to Angkor Wat, incinerating an Indian jungle, tigers and all, transforming itself into a Persian desert sandstorm, burying an exotic fortress city under a sea of sand. In short, a love of truly monumental proportions. The person she fell in love with happened to be seventeen years older than Sumire. And was married. And, I should add, was a woman. This is where it all began, and where it all wound up. Almost.

Selain itu, masih banyak sekali yang berbeda antara diriku di usia ke-15 dan 25.

Lalu, apa yang sama?

Ketika berusia 15, mendengarkan dan mengikuti berbagai musisi punk membuatku merasa keren, terutama ke beberapa orang yang kuanggap spesial dan ingin kutarik perhatiannya.

Hal tersebut tidak berubah di usia 25.

________________

Ketika berusia 15, mendengarkan lagu “First Date” dari Blink 182 membuatku berpikir tentang betapa misteriusnya sebuah kencan pertama yang akan bertahan di memori selamanya.

Hal tersebut tidak berubah di usia 25.

________________

Ketika berusia 15, aku ingin bisa beraksi di panggung dengan celana sedengkul, sepatu Converse, sambil lompat-lompatan … lagi-lagi untuk menarik perhatian sang lawan jenis.

Hal tersebut tidak berubah di usia 25.


Membeli album Take Off Your Pants and Jacket dari Blink 182 setelah 14 tahun mendengarkan secara ilegal atau sekadar meminjam dari teman mengingatkan saya akan masa-masa bodoh di SMP dulu. Sebuah masa-masa yang berisi begitu banyak perbedaan, tapi juga memiliki banyak persamaan dengan kondisiku yang sekarang.

Yang jelas, bagaimanapun perasaan hatiku … atau mungkin hatimu juga, musik punk adalah teman setia. Dengarkanlah dan rasakan semangatnya, sebuah perasaan yang jelas terasa jauh berbeda dari tulisan acak tanpa tujuan jelas yang sok-sokan menggunakan nama “punk” ini.

Rock on!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s