Kucing dan Kota – Sang Penguasa Jakarta

Malam itu Jakarta berkilau dipenuhi lampu seperti biasanya. Dan seperti biasa juga, kota ini dipenuhi dengan suara klakson kendaraan yang terjebak macet, bunyi-bunyi alat berat yang sibuk menambah gedung-gedung bertingkat, serta perpaduan dari berbagai hal yang menggelitik indera pendengarku dengan begitu intens. Di malam yang cerah dan terkesan kebiruan itu, aku memandangi kekacauan yang indah ini dari lantai 4 tempat parkir salah satu mal terbesar di Jakarta.

Ya, sampai ke poin ini kamu mungkin akan berpikir apakah aku adalah seekor kucing seperti yang ada di gambar di atas? Iya, aku memang seekor kucing. Tapi aku bukanlah seekor kucing biasa, karena aku adalah kucing penguasa Jakarta.

Oke, mungkin aku terlalu tergesa-gesa dalam menceritakan kisahku, jadi mari kita mulai dari awal dengan pelan-pelan ya. Seperti yang telah aku jelaskan, aku adalah kucing penguasa Jakarta. Apakah berarti aku yang mengatur segala sesuatu yang terjadi di kota gila ini? Tentu tidak, itu urusan Ahok, bukan urusanku. Tapi setidaknya aku mengatur seluruh kucing yang ada di kota ini, dan secara tidak langsung hal tersebut amat sangat mempengaruhi Kota Jakarta.

Memang seberapa penting sih kucing-kucing di dunia sampai perlu ada hierarki kepemimpinan segala? Yah, kami adalah makhluk yang tidak biasa. Tidak seperti tikus yang diciptakan hanya untuk merusak layaknya koruptor atau anjing yang ada hanya untuk membuat manusia mengalami kesenangan fiktif layaknya yang disajikan pelacur, kucing lahir dengan kebebasan mutlak. Selain bebas, kami juga memiliki pengetahuan dan kemampuan yang cukup besar, bahkan lebih dari apa yang manusia bisa bayangkan.

Karena kebebasan yang terlalu mutlak tidaklah baik, akhirnya pun diputuskan bahwa kucing perlu batasan, dan yang bisa membatasi seekor kucing hanyalah kucing lain yang lebih kuat, baik secara fisik maupun spiritual. Untuk memudahkan pengontrolan setiap kucing inilah, tiap daerah di Jakarta dipimpin oleh seekor kucing, mulai dari level gang, perumahan, kelurahan, kecamatan, kotamadya sampai ke level seluruh kota yang takhtanya aku pegang.

Dengan adanya hierarki ini, tidak saja para kucing liar bisa ditahan dari melakukan kebandelan yang berlebihan, tapi kami para kucing juga jadi bisa membantu manusia-manusia yang bodoh untuk hidup lebih baik dan tidak hanya merusak planet mereka saja.

Bagaimana cara kami membuat para manusia bodoh bisa hidup lebih baik? Banyak sekali. Tanpa kalian ketahui, bisa jadi manusia baru terlahir berkat perkenalan antara dua insan yang kami comblangkan, bisa juga seorang manusia berhenti menjadi makhluk tidak berguna berkat campur tangan kami, dan yang paling mudah dilakukan (oleh karena itu sering sekali tugas yang satu ini dibebankan ke kucing kecil) adalah membangkitkan perasaan empati yang ada di diri manusia sampai bisa mengubah cara dia berkomunikasi dengan manusia lainnya.

Terdengar begitu hebat bukan kontribusi kucing? Kalau kamu penasaran dengan seberapa besarnya peran kucing dalam hidupmu dengan lebih mendetail, maka dengarkanlah ceritaku.

Tapi aku tidak akan menceritakannya sekarang. Kucing memang kuat, tapi kami butuh tidur yang lama. Jadi tunggu saja sampai ke ceritaku yang berikutnya ya. Entah kapan aku mau menceritakannya, yang jelas sekarang adalah waktuku untuk istirahat.

Meeeeoooong.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s