Jurnal Mudik

Jakarta. Kota terkutuk yang begitu memikat penghuninya dengan berbagai sihir. Namun, di antara segala sihir gelap yang membutakan penghuninya, ada satu penangkal mujarab yang membuat semua orang ingat kebusukan kota ini. Penangkal tersebut hadir dalam wujud kemacetan. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika saat-saat sebelum Idulfitri merupakan waktu paling sempurna untuk menikmati Jakarta. Saat-saat di mana kota yang dipenuhi jutaan pendatang ini menjadi kosong dan menyediakan ruang untuk bernafas lebih lega pada penghuninya.

Sayangnya, tahun ini aku tidak akan bisa menikmati pesona sesaat Jakarta karena harus menjalankan sebuah ritual yang juga umum terjadi di kota ini setiap tahunnya. Apalagi kalau bukan mudik. Tapi, setidaknya aku masih berkesempatan untuk menikmati pesona sesaat Jakarta, karena perjalananku ke bandara kali ini diisi dengan pengalaman kosongnya jalan raya yang hanya muncul setahun sekali.

Jakarta Macet

Jika biasanya aku selalu memanfaatkan waktuku di kendaraan dengan maksimal, entah itu dengan mendengarkan siaran, membaca buku, bermain game, atau menulis sesuatu, maka kali ini aku memutuskan untuk tidak melakukan apa pun selain memandangi jalan. Sekali-kali aku masih mengecek layar ponselku, tapi fokus utama tetap ke matahari terbenam di jalan tol, dan kosongnya jalan yang diisi mobil-mobil yang memacu kecepatan mereka.

Kira-kira setengah perjalanan, tiba-tiba supir Uber yang kutumpangi mengajak berbicara soal kosongnya Jakarta dan tentang mimpi dia untuk membeli lahan di kampung halaman dan membuka usaha sendiri. “Agak lucu ya bermimpi seperti itu,” ujar pengemudi Uber tersebut.

“Kalau tidak bisa bermimpi, bagaimana mungkin bisa mewujudkannya Pak,” jawabku yang merasa termotivasi karena tepat sebelum berangkat, aku baru selesai menonton Zootopia. Anyone can be anything!

Setelah sampai di bandara, pegawai maskapai menawarkan sesuatu yang sempat membuatku berpikir: Apakah aku ingin mengubah jam penerbangan menjadi lebih cepat 90 menit? Jika aku mengambilnya, maka orang-orang yang terlambat naik pesawat mereka, akan naik pesawatku yang mana terbang 90 menit lebih telat.

Tawaran yang menarik, pikirku, tapi seandainya salah satu pesawat mengalami masalah, pilihan ini pasti akan membuatku sangat menyesal, atau malah tidak bisa menyesal sama sekali … jika kau mengerti maksudku.

Aku pun memutuskan untuk menunggu saja jam terbang asliku, dan sambil menunggu, aku berkesempatan untuk menikmati matahari terbenam di landasan pesawat, melihat anak kecil yang dibuat stres karena game yang ia mainkan menampilkan iklan video setiap beberapa detik, dan tentu saja menulis tulisan yang tidak jelas tujuannya ini.

Anyone can be anything, including a random writer!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s