Kamu Orang Mana?

Pertanyaan tersebut mungkin merupakan salah satu pertanyaan basa-basi pembuka paling sering aku dengar dalam hidupku, dan sebagai anak pasangan kaum urban, aku tidak pernah tahu pasti jawabannya. Di Jakarta, aku akan menjawab kalau aku adalah orang Solo karena itulah kota asal asal orang tua dan juga tempatku pergi mudik. Tapi, ketika di Solo aku jelas bukan orang sana, aku adalah orang kota yang datang dari Jakarta, pernyataan yang tidak salah memang mengingat aku lahir dan tumbuh besar di Jakarta.

Di Jakarta, aku sering mengobrol dengan kawan-kawanku menggunakan bahasa Jawa, yang tentunya dicampur dengan bahasa Indonesia atau bahkan bahasa Inggris. Di Solo, ketika aku berusaha berbicara bahasa Jawa maka lawan bicaraku akan mulai nyerocos dengan bahasa yang terlalu sulit aku pahami, membuat mereka langsung menyadari kalau aku adalah “pendatang.”

Di Jakarta, aku sudah terbiasa dengan beraktivitas menggunakan berbagai aplikasi, mulai dari aplikasi transportasi, sampai ke aplikasi mencari jodoh sekalipun. Ketika sampai Solo, aku harus beradaptasi kembali karena masih langkanya transportasi berbasiskan aplikasi, dan kota ini juga menjadi satu-satunya tempat di mana aku telah menemukan semua pengguna Tinder dalam area beberapa puluh kilometer karena memang jumlahnya yang sedikit.

Di Jakarta, aku sudah biasa berkumpul dengan orang sepaham yang percaya bahwa aturan ada untuk ditaati dan sampah ada untuk dibuang pada tempatnya. Di Solo, bahkan aku harus berdebat dengan anggota keluarga sendiri urusan ini.

Di Jakarta, pegawai mini mart sudah biasa tidak memberikan plastik untuk belanjaan berjumlah sedikit. Di Solo, bahkan melihat orang meminta plastik untuk sebuah barang berukuran kecil saja masih menjadi pemandangan biasa.

Di Jakarta, menemukan berbagai toko yang masih buka sampai malam adalah hal biasa. Di Solo, bahkan toko-toko di bandara pun sudah tutup pada pukul 8 malam!

Di tulisan ini mungkin aku terkesan seperti mendiskreditkan kampung halaman sendiri, tapi pada kenyataannya pandangan seperti itu hanya muncul jika kamu percaya bahwa argumen hal yang biasa kulihat di Jakarta adalah sesuatu yang benar. Besar kemungkinan orang di kampung halamanku sendiri tidak merasa beberapa kritik yang kusampaikan ini adalah hal yang seharusnya diperbaiki. Tapi kalau mereka sadar dan tetap tidak peduli … yah entah aku harus merespons dengan apa.

Melihat begitu banyaknya hal yang berbeda antara kampung halamanku dengan kota tempat aku lahir, memperoleh pendidikan, dan tumbuh berkembang, terkadang aku bingung sendiri, apakah mudik di kamusku itu berarti pulang ke kampung halaman? Atau mungkin artinya hanyalah sekadar ritual tahunan di hari raya?

Homecoming. But, which home? [2]

A post shared by mohammad fahmi (@fahmitsu) on

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s