Kuatnya Kata-Kata

Sore itu, ketika sedang asyik memanaskan air untuk membuat teh instan di dapur, tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara bising dari pagar depan rumah. Langsung saja aku keluar, dan kulihat ada beberapa anak kecil tampak tengah bermain … atau lebih tepatnya satu anak kecil tengah emosi dan sisanya mempermainkan dia. Kesal karena berisik, aku pun membentak dan mengusir mereka, membuat segerombolan bocah jahil tersebut lari, hanya menyisakan si anak emosional yang tampak kalang kabut. Aku melihat anak itu sebentar, kemudian kembali masuk ke rumah.

“Jadi orang kok pemarah banget sih, namanya juga anak kecil pasti sering bercanda sambil berisik,” ujar ibuku dengan santai sambil menonton TV.

“Mereka bukan lagi main, lebih kelihatan kayak segerombolan bocah nge-bully satu anak emosional … cukup mirip dengan Fahmi dulu,” jawabku.

Ya, memang benar. Melihat anak tadi aku langsung merasa kasihan karena aku cukup sering menerima perlakuan seperti yang dia terima. Sambil mengaduk teh, aku berpikir … harusnya aku tidak langsung masuk tadi, harusnya aku mengajarkan anak itu untuk tidak melawan dengan pukulan penuh emosi tak terarah, tapi lawanlah dengan kata-kata cerdas dan menyakitkan, karena kata-kata lebih punya impak daripada jotosan bocah.

Jika aku bisa mengembalikan waktu, jelas pikiran tersebutlah yang akan kusampaikan pada diriku ketika kecil, dan juga pada si bocah yang tengah digoda dan dipermainkan karena emosinya yang sangat labil.

Memiliki emosi labil adalah perasaan yang sangat menyebalkan. Hal simpel bisa membuat aku bertindak bodoh, dan hal tidak penting kadang bisa membuatku merasa iba atau melankolis. Aku pribadi cukup membanggakan diri sebagai orang dengan kosakata dan pemahaman bahasa yang tidak jelek-jelek banget. Sialnya, ketika kemampuan ini digabung dengan emosi yang labil, amat sangat mudah bagi masalah untuk mendatangi.

Sejak aku bisa berbicara dan menulis, entah berapa kali mulut dan tangan ini menjerumuskanku dalam masalah. Mulai dari hal sepele yang membuat diriku dibenci sehari penuh, sampai ke hal lebih sepele lainnya yang membuatku merasa tidak enak dan menyesal atas apa yang kuucapkan ke orang lain. Semua ini mempengaruhi banyak aspek hidup, dari kehidupan sebagai bocah sampai ke dunia profesional.

Tapi, belakangan aku menyadari suatu hal. Hal yang seharusnya sudah sangat jelas logikanya jika aku mau berpikir normal sedikit saja. Hal tersebut adalah, jika kata-kata memang bisa menimbulkan kesan negatif yang begitu besar, tentunya hal tersebut juga bisa menimbulkan kesan positif yang begitu besar.

Aku menyadari logika simpel ini ketika aku menerima langsung kata-kata simpel yang entah mengapa memberikanku motivasi dan semangat. Kata-kata tersebut aku terima dari seseorang yang karyanya aku idolakan, dan disampaikan sebagai gestur simpel, namun indah dan begitu mengena.

Kata-kata pertama berbunyi:

Keep fighting the good fight! 🙂

Aku sendiri tidak yakin bagian mana dari aktivitas harianku yang merupakan hal baik. Tapi kalau ditelaah sedikit dari kebiasaanku di internet dan dunia nyata, mungkin saja ada potongan-potongan positif yang memang perlu aku lestarikan. Dan meskipun aku tidak yakin apakah pesan itu yang benar-benar hendak disampaikan sang penulis, aku cukup merasa berbangga dan termotivasi.

Bangga karena ternyata sedikit hal baik yang aku lakukan, baik secara sadar ataupun tidak sadar, ternyata diperhatikan orang lain. Termotivasi karena ucapan tertulis simpel tersebut entah mengapa cukup untuk menjadi dorongan bagiku agar melakukan “good fight” dengan lebih sering dan lebih baik lagi.

Sedangkan kata-kata kedua berbunyi lebih simpel lagi, yaitu:

Good Luck | Greeting Card

Kata-kata yang lebih simpel dan memiliki makna yang sangat luas, tapi kata-kata ini disajikan dalam tulisan yang apik serta dibungkus oleh gestur yang jauh lebih indah dan berkesan dari apa pun yang ada di dunia. Kata-kata simpel ini bisa membuat aku senang, termotivasi, ketakutan, dan merasa cukup tertekan. Dua buah kata yang dibalut gestur positif bisa memiliki impak yang begitu besar untuk hariku, dan uniknya, perasaan yang biasanya berhubungan dengan sesuatu yang negatif pun menjadi sesuatu yang positif hanya karena perasaan tersebut muncul dari kata-kata bersifat positif.

Aku mungkin terdengar seperti meracau di bagian ini, tapi memang sangat sulit menjelaskannya tanpa terkesan terlalu gamblang. Lagi pula, rasanya tidak semua hal di dunia perlu dijelaskan secara gamblang bukan?

Intinya, hanya dengan dua kata berbunyi “good luck,” aku terdorong untuk melakukan hal yang jelas tidak biasa (berani) aku lakukan. Meskipun dari luar tindakan tersebut terdengar konyol dan sangat umum, tapi ketika aku memutuskan untuk melakukannya, rasanya seperti keraguan ketika ingin terjun menuju perosotan hitam di taman bermain besar yang tampak menyeramkan, dan kalimat “good luck” tersebutlah yang rasanya berperan sebagai sosok teman yang mendorongku untuk segera terjun ke pengalaman yang menyeramkan tersebut.

Untuk saat ini, aku belum tahu bagaimana akhir dari perosotan hitam yang tampak menyeramkan tersebut. Tapi apa pun yang perosotan itu akan lakukan kepadaku, pastinya aku akan keluar menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Dan semua itu bisa terjadi hanya karena sebuah kalimat berbunyi “good luck.”


Jadi apa makna dari tulisan ini? Tidak banyak, hanya sekadar memberikan contoh, kalau kata-kata itu bisa menjadi pedang bermata dua bagi dirimu. Hal yang seharusnya sangat jelas dan dimengerti semua orang, tapi sering kali baru kita sadari ketika kita menerima serangan dari dua sisi pedang tersebut. Sisi yang positif dan sisi yang negatif.

Sekarang aku telah merasakan bahwa sisi positif dari pedang memiliki impak yang jauh lebih baik dari sisi negatifnya, jadi ini mungkin waktu yang tepat untuk mulai menyarungka mata pedang negatif, dan lebih sering mengayunkan mata pedang yang positif. Semoga saja melaksanakannya semudah menulis tentangnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s